Tren “Slow Living” Kembali Digemari Generasi Muda
ilustrasi
TITIKWARTA.COM - Gaya hidup slow living kembali ramai dibicarakan di media sosial dan mulai banyak diterapkan oleh generasi muda di berbagai kota besar. Tren ini muncul sebagai respons terhadap kehidupan modern yang dianggap terlalu cepat, melelahkan, dan penuh tekanan.
Konsep slow living mengajak seseorang untuk menjalani hidup dengan lebih tenang dan sadar terhadap keseharian. Mulai dari menikmati waktu istirahat, mengurangi penggunaan media sosial, hingga lebih fokus pada kesehatan mental dan kualitas hidup.
Banyak anak muda kini mulai memilih aktivitas sederhana seperti membaca buku, berkebun, memasak sendiri, atau menikmati kopi tanpa tergesa-gesa. Aktivitas yang dulu dianggap biasa kini justru dipandang sebagai bentuk self healing modern.
Media sosial juga dipenuhi konten bertema kehidupan tenang dengan visual estetik bernuansa minimalis. Kamar rapi, cahaya matahari pagi, tanaman hijau, dan musik instrumental pelan kini menjadi simbol “hidup damai” versi internet.
Meski terlihat sederhana, sebagian orang menilai tren ini cukup sulit diterapkan di tengah tuntutan pekerjaan dan tekanan ekonomi yang semakin tinggi. Tidak semua orang punya kemewahan waktu untuk hidup santai sambil menyeduh teh selama tiga puluh menit.
Namun demikian, banyak yang menganggap slow living penting untuk menjaga keseimbangan hidup di era digital yang serba cepat. Kesadaran terhadap kesehatan mental juga dinilai semakin meningkat di kalangan generasi muda.
Ironis memang. Manusia menciptakan teknologi agar hidup lebih mudah, lalu sekarang harus membuat tren khusus untuk belajar hidup pelan-pelan lagi seperti manusia normal sebelum notifikasi ditemukan.(sen/tw)
