49,2 Persen Remaja Mengaku Orang Tua Jarang Tahu Aktivitas Mereka

Ilustrasi

TITIKWARTA.COM - Ketika seorang anak memasuki usia remaja, dunianya perlahan menjadi lebih luas. Sekolah, teman, media sosial, gim, percakapan daring hingga berbagai persoalan pribadi mulai membentuk ruang yang tidak selalu diketahui orang tua.

 

Persoalannya, seberapa jauh orang tua masih mengetahui kehidupan anak mereka?

 

Data Global School-based Student Health Survey (GSHS) Indonesia 2023 menunjukkan, 49,2 persen pelajar mengatakan orang tua atau wali mereka tidak pernah atau jarang benar-benar mengetahui apa yang mereka lakukan pada waktu luang. Survei GSHS Indonesia 2023 merupakan data nasional yang tercatat dalam basis surveilans WHO.

 

Data 2023 yang sama juga menunjukkan persoalan komunikasi yang lebih dalam. 57,4 persen pelajar mengatakan orang tua atau wali mereka tidak pernah atau jarang memahami masalah dan kekhawatiran yang mereka hadapi.

 

Angka tersebut tidak otomatis berarti hampir separuh orang tua tidak peduli kepada anak. Pertanyaan survei berkaitan dengan seberapa sering orang tua mengetahui aktivitas anak dan memahami masalah yang mereka hadapi.

 

Namun, data 2023 itu menunjukkan adanya ruang yang cukup besar antara kehidupan remaja dan pengetahuan orang tua tentang kehidupan tersebut.

 

Jarak itu semakin kompleks ketika sebagian kehidupan remaja berlangsung di ruang digital. Pertemanan, hiburan, komunikasi hingga pencarian informasi dapat berlangsung melalui layar yang berada di tangan anak. Orang tua mungkin berada di rumah yang sama, tetapi belum tentu mengetahui apa yang sedang terjadi dalam dunia digital anak.

 

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar soal anak yang jarang bercerita.

 

Apakah orang tua tidak tahu karena anak memang mulai membutuhkan ruang sendiri? Atau karena anak merasa tidak cukup aman untuk menceritakan kehidupannya?

 

Pertanyaan itu penting karena masa remaja memang merupakan periode ketika anak mulai membangun identitas, hubungan sosial dan kemandiriannya. UNICEF dalam panduan pengasuhan remaja menekankan bahwa ketika anak semakin matang, orang tua perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan keterlibatan mereka, bukan sekadar meningkatkan kontrol.

 

Maka persoalannya bukan sekadar apakah orang tua mengetahui semua aktivitas anak.

 

Yang lebih penting adalah apakah anak masih merasa punya tempat untuk bercerita ketika sesuatu terjadi.

 

Sebab ketika anak berhenti bercerita, orang tua bukan hanya kehilangan informasi tentang aktivitas anak. Mereka juga bisa kehilangan kesempatan untuk mengetahui ketika anak sedang menghadapi persoalan.

 

Dan di era ketika sebagian kehidupan remaja berlangsung tanpa terlihat oleh keluarga, mengetahui apa yang dilakukan anak memang penting. Tetapi mengetahui kapan anak membutuhkan tempat untuk bercerita bisa jadi jauh lebih penting. (Sen/tw)