EBIFF Jadi Wadah Promosi Produk Bercita Rasa Lokal Berkualitas Internasional: Menggeris

Foto : Ilustrasi Istimewa.

TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) 2025 sukses menyajikan ragam hal menarik. Selain soal kebudayaan yang memang eksotik dari berbagai negara, ada pula hal lain yang tidak kalah mencuri perhatian. Seperti karya tangan pelaku UMKM yang tersebar di bazaar di Gelora Kadrie Oening.

 

Salah satunya kerajinan kayu berupa jam tangan, lanyard, hingga kacamata. Merupakan karya yang dijajarkan dalam tenan milik Iendy Zelviean Adhari. Bukan sembarang kayu, karena material yang dia gunakan adalah kayu asli Kalimantan, seperti ulin (Eusideroxylon zwageri), hitam kalimantan (Diospyros borneensis), dan Menggeris (Koompassia excelsa).

 

“Kami ingin memperkenalkan kayu khas Kalimantan dalam wujud yang lebih modern, eksklusif, dan sustainable,” ujarnya saat ditemui tim Diskominfo Kaltim di sela-sela keramaian bazaar.

 

Tiga jenis kayu itu dipilih karena merupakan keras yang terkenal langka dan tahan lama. Di tangan Iendy bersama dua rekannya, kayu-kayu ini disulap jadi aksesori bernilai estetis tinggi, bernilai jual, dan potensi investasi.

 

“Salah satu varian best seller dari jam tangan kami ada yang menggunakan kombinasi kayu keras dengan mesin automatic salah satu brand terkenal. Tidak pakai baterai, dan ini sudah kami patenkan. Ini satu-satunya di dunia,” jelas pria kelahiran Kutai Kartanegara yang juga mengajar sebagai dosen manajemen di salah satu perguruan tinggi di Samarinda ini.

 

Rantai produksinya melibatkan tiga pasok utama, meliputi bahan mesin jam tangan dari Jepang dan Hong Kong, material pendukung seperti kulit dan kaca dari supplier dalam negeri, serta kayu tersertifikasi dari Kaltim. Prosesnya sudah terstandar dengan legalitas bahan baku yang terjamin.

 

Meski baru berjalan satu tahun, Menggeris telah menembus pasar ekspor, dengan pembeli dari Amerika Serikat dan Prancis. Produk best seller mereka yakni jam tangan kayu keras automatic dan timeless. Beragam produknya dibanderol dengan harga mulai Rp700 ribu hingga Rp6 juta. Bergaransikan 6 bulan, nilai koleksi dan kelangkaan bahan baku menjadi daya tarik tersendiri bagi produk-produk mereka.

 

“Ketika bahan baku langka, hukum ekonomi akan berlaku. Nilainya naik, dan bisa jadi aset. Apalagi kayu keras Kalimantan bisa bertahan puluhan tahun, bebas hama dan jamur,” tambah Iendy.

 

Menggeris ingin jadi bukti bahwa produk lokal bisa berkelas global. Bagi Iendy, keikutsertaan di bazaar EBIFF 2025 bukan sekadar berjualan produk, melainkan menjadi wadah bagi dirinya dan rekan-rekannya untuk memperkenalkan warisan alam Kalimantan dalam bentuk baru kepada dunia.

 

Salah satu pengunjung bazaar Bernama Alita, mengaku sangat terkesan dengan produk Menggeris.  “Ini autentik banget, sih! Mewakili Kaltim dan sangat potensial jadi oleh-oleh khas yang punya daya saing tinggi,” tuturnya.

 

Partisipasi Menggeris dalam EBIFF 2025 menjadi salah satu wajah keberhasilan festival ini dalam memberi ruang bagi UMKM lokal untuk unjuk gigi. Tak hanya menjual produk, tetapi juga menjalin koneksi lintas budaya dan membuka jalan baru menuju pasar internasional. (adv/diskominfokaltim/sef/pt/wan)