Gaya Hidup Berkelanjutan: Thrifting Jadi Strategi Ekonomi dan Fashion Gen Z

TITIKWARTA.COM - Fenomena thrifting atau berburu pakaian bekas layak pakai kini bukan lagi sekadar alternatif bagi kalangan menengah ke bawah, melainkan telah bertransformasi menjadi tren gaya hidup dominan di kalangan Generasi Z. Tren ini didorong oleh keinginan untuk tampil modis dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan membeli pakaian baru di toko ritel modern. Selain faktor ekonomi, kesadaran akan dampak lingkungan dari industri fast fashion menjadi katalisator utama yang membuat pasar barang bekas terus bergeliat di berbagai kota besar.

 

Lonjakan minat terhadap pakaian pre-loved ini menciptakan ekosistem ekonomi baru yang cukup menjanjikan. Gen Z melihat thrifting sebagai cara untuk mengekspresikan diri melalui gaya yang unik dan tidak pasaran (eksklusif), karena barang yang ditemukan biasanya hanya tersedia satu unit saja. Pergeseran perilaku konsumen ini menunjukkan bahwa nilai sebuah barang kini tidak lagi hanya diukur dari label harga atau kebaruan, melainkan dari nilai estetika dan durabilitas produk tersebut.

 

Pakar gaya hidup dan pemerhati fashion, Anita Rahmawati, mengungkapkan bahwa motivasi terbesar Gen Z saat ini adalah menggabungkan antara hobi dengan nilai kepedulian sosial. "Generasi Z sangat kritis terhadap isu lingkungan. Mereka sadar bahwa dengan membeli pakaian bekas, mereka sedang memperpanjang siklus hidup sebuah barang dan mengurangi limbah tekstil yang menjadi salah satu polutan terbesar dunia," ujar Anita saat memberikan pandangannya mengenai perubahan tren pasar fashion.

 

Namun, daya tarik utama thrifting tetap terletak pada aspek finansial yang sangat efisien. Dengan modal yang minim, anak muda tetap bisa mendapatkan merek-merek ternama dengan kualitas material yang masih sangat baik. Hal ini memberikan ruang bagi mereka untuk tetap mengikuti perkembangan zaman tanpa harus terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan. Anita menambahkan bahwa kemampuan memadupadankan (mix and match) pakaian bekas menjadi keahlian yang sangat dihargai dalam lingkaran pertemanan mereka.

 

"Bagi mereka, thrifting adalah cara cerdas untuk tetap stylish sekaligus ramah di kantong. Ini adalah bentuk pemberontakan terhadap budaya fast fashion yang serba instan dan merusak alam," pungkas Anita Rahmawati. Dengan dukungan teknologi dan platform digital, pasar pakaian bekas diprediksi akan terus tumbuh dan menjadi bagian tak terpisahkan dari ekonomi kreatif nasional di masa depan, seiring dengan semakin kuatnya narasi keberlanjutan di tingkat global.(sen/tw)