Kejahatan Digital Doksing ke Insan Pers Bisa Mengancam Tatanan Demokrasi
MENGECAM: Muhammad Faisal menyampaikan pandangannya tentang praktik pengecut yang mengumbar data pribadi seseorang, atau yang umum disebut doksing.
TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Kecanggihan dunia digital dibarengi sederet risiko. Yakni seputar keamanan data pribadi yang rawan dibobol. Celah itu rawan disalahgunakan pihak tidak bertanggung jawab untuk meneror dan mengintimidasi korbannya. Umum disebut dengan istilah doksing.
Semakin ke sini, sasaran pelaku tindakan doksing meluas. Kini, insan pers yang bertanggung jawab menyampaikan fakta dengan produk jurnalistiknya, turut menjadi sasaran. Gangguan psikis hingga fisik dilakukan oleh para pengecut itu, untuk menumpulkan nyali dan kualitas analisa sebuah fakta yang diolah oleh para pewarta.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim Muhammad Faisal menyatakan mengutuk keras perbuatan tersebut. Menurutnya hal tersebut mengancam kebebasan insan pers dalam menjalankan tugasnya.
Membiarkan kekerasan digital terhadap jurnalis akan merusak ekosistem demokrasi. Ketika pers dibungkam, publik kehilangan akses terhadap informasi objektif yang menjadi dasar pengambilan keputusan.
"Harus kita perangi bersama-sama perilaku doksing seperti itu. Kita tidak bisa diam atau menyerah, ‘kan? Saya akan selalu ada di pihak kawan-kawan (jurnalis)," ucapnya. Sebagai langkah pencegahan, dia pun mengingatkan agar insan pers dan masyarakat bisa menjaga data pribadinya.
Kemudian, edukasi ke masyarakat juga tidak kalah penting untuk memastikan praktik pengecut itu tidak terjadi kembali. “Kaltim masih membutuhkan jurnalis-jurnalis yang independen, kredibel, dan bisa bersama-sama membangun daerah ini. Mari kita terus bersemangat, jangan menyerah pada tekanan,” ajaknya.
Salah satu poin penting menurutnya yakni meningkatkan literasi digital, memperkuat regulasi perlindungan data, dan penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan digital harus ditegakkan tanpa kompromi.
Dia tidak menutup mata akan hadirnya dinamika dalam dunia pers. Meski, Kaltim tetap dalam kondisi yang stabil dan kondusif. "Kalau ada sedikit reaksi, itu lumrah. Tapi mari kita hadapi bersama, bukan dengan amarah atau ketersinggungan berlebihan. Kita juga enggak boleh tipis kuping," ujar dia. (adv/diskominfokaltim/rey/pt/wan)
