Nilai Pancasila Harus Diresapi Generasi Muda, Jadi Ruh Karakter Berbangsa

INSPIRATIF: Kepala Diskominfo Kaltim Muhammad Faisal mengulas pentingnya implementasi nilai Pancasila di kalangan generasi muda.

TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Pancasila bukan sekadar simbol penghias ruang kelas di sekolah. Atau garudanya, bukan sekadar mitos yang selalu menarik untuk dibicarakan. Lebih dari itu. Selain simbol negara, Pancasila punya makna spesial sebagai jembatan pemersatu perbedaan. Terutama di antara kalangan generasi muda.

 

Pesan ini yang disampaikan saat Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim Muhammad Faisal mengisi program dialog interaktif Halo Kaltim di kanal RRI Pro 1 Samarinda.

 

Terlaksana Sabtu (31/5), program tersebut mengusung tema Pancasila Sebagai Landasan Pendidikan Karakter Generasi Muda. Selain Faisal, turut hadir Rusma Ya’qub selaku pengamat pendidikan Kaltim.

 

Pada kesempatan tersebut, Faisal mengingatkan betapa pentingnya Pancasila sebagai ruh pembentukan karakter generasi muda. "Kalau kita berkaca membandingkan dengan negara lain, kita patut berbangga. Dari Sabang sampai Merauke, dengan segala perbedaan kita masih kukuh bersatu. Itu makna saktinya Pancasila," ujar Faisal.

 

Ia optimistis, generasi muda mampu mengamalkan dan mengemban amanah sebagai generasi penerus yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Dengan pendidikan yang baik dan benar, generasi muda akan tampil sebagai karakter yang mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila.

 

“Ada pengalaman saya berkunjung ke SMA/SMK, saya disambut siswa-siswi yang saling mengucapkan salam dan cium tangan. Rasanya mau menetes air mata. Jadi, masih banyak generasi muda kita yang berkarakter. Asal kita didik dengan benar,” katanya haru.

 

Sementara itu, Rusman menyoroti pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila. Ia mengingatkan agar sistem pendidikan di Indonesia tidak kehilangan jati diri akibat pengaruh budaya luar.

 

“Pendidikan karakter itu membentuk moral dan akhlak berdasarkan nilai-nilai bangsa sendiri. Tidak terpengaruh oleh budaya luar seperti westernisasi atau K-Pop,” tegasnya.

 

Rusman juga menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila seharusnya tidak hanya menjadi hafalan dalam pelajaran, tapi diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Semisal, mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam semua mata pelajaran.

 

“Masih adanya bullying di sekolah menunjukkan ada nilai yang belum tertanam dengan kuat. Pancasila harus jadi praktik hidup, bukan hanya simbol filosofis,” bebernya. (adv/diskominfokaltim/KRV/pt/wan)