Problem Fluktuasi Inflasi Pangan Jadi Atensi Pemerintah, Daerah Diharapkan Adaptif Cari Solusi
KOORDINASI: Pemerintah pusat dan daerah intens bertatap muka demi mencari solusi melalui situasi pelik fluktuasi inflasi pangan yang sedang terjadi.
TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Fluktuasi inflasi pangan di Indonesia jadi atensi serius pemerintah. Melonjak beberapa kali pada semester pertama, komoditas pangan utama diprediksi masih jadi pendorong inflasi hingga akhir tahun nanti.
Demi menyinergikan langkah antara pemerintah pusat dan daerah, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia (RI) intens menggelar rapat koordinasi. Dalam setiap pertemuan tersebut, pemerintah daerah diharapkan bisa mengatasi risiko tersebut, menggunakan pendekatan yang familier di masyarakat.
Mendagri RI Tito Karnavian mengatakan, sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah, serta implementasi kebijakan yang tepat sasaran, diharapkan meredam gejolak harga dan menjaga inflasi pangan tetap berada dalam level yang terkendali. "Masyarakat diimbau tetap bijak dalam berbelanja dan tidak panic buying yang dapat memperkeruh stabilitas harga," ujar Tito (11/8).
Sepanjang 2025, inflasi bahan makanan tercatat mengalami beberapa kali peningkatan signifikan. Pada Juli 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi bulanan salah satunya didorong oleh kenaikan harga komoditas pangan strategis seperti beras, tomat, bawang merah, cabai rawit, dan telur ayam ras.
Tren ini sejalan dengan data Trading Economics yang mencatat kenaikan biaya makanan 3,75 persen pada Juli 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year), sebuah percepatan dari laju inflasi bulan Juni.
Pada Maret 2025, lonjakan harga pangan juga terjadi. Terutama dipicu oleh peningkatan permintaan menjelang Hari Raya Idulfitri. Komoditas seperti cabai merah dan cabai rawit menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut. Meskipun sempat deflasi pada Mei 2025, tekanan inflasi dari sektor ini kembali terasa pada bulan-bulan berikutnya.
Sejumlah faktor diidentifikasi sebagai penyebab utama gejolak harga pangan pada 2025. Selain faktor musiman seperti peningkatan permintaan pada hari besar keagamaan, kondisi cuaca yang tidak menentu dan tantangan dalam rantai distribusi turut memberikan andil. Isu ketidakpastian ekonomi global juga disebut memberikan dampak tidak langsung terhadap stabilitas harga pangan di dalam negeri.
Menghadapi tantangan ini, pemerintah tidak tinggal diam. Badan Pangan Nasional (NFA) bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan menggulirkan serangkaian kebijakan intervensi.
Beberapa program tersebut, di antaranya, stabilisasi pasokan dan harga pangan, gerakan pangan murah, penyaluran bantuan pangan, penguatan cadangan beras pemerintah, dan fasilitasi distribusi pangan.(adv/diskominfokaltim/wan)
