Tantangan Kemerdekaan Ke-80, Kaltim jadi Pusat Perhatian Negara, Persaingan Masyarakat Akan Semakin Ketat

MAJU TERUS: Gubernur Kaltim H Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji berupaya mewujudkan janjinya demi mewujudkan masyarakat Kaltim yang berdaya saing.

TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Indonesia kian matang. Bertambahnya usia menjadi 80 tahun, jadi momen refleksi untuk masyarakat menjaga persatuan, kedaulatan, dan menyalakan tekad bersama mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.

 

Pesan itu yang disampaikan Gubernur Kaltim H Rudy Mas’ud (Harum) setelah memimpin upacar peringatan HUT kemerdekaan RI, Minggu (17/8). “Mohon doa dan dukungan kepada kita semua agar semangat 80 tahun kemerdekaan ini menjadi bekal berharga mengantarkan Indonesia menuju generasi emas. Sesuai visi dan misi Kaltim, kita harus ikut menjadi motor penggerak Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

 

Gubernur Harum menegaskan bahwa provinsi ini kini berada di garis depan sejarah yang siap menyongsong hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pusat pemerintahan baru Republik Indonesia.

 

“Target kita, Kaltim hari ini sudah menjadi etalase Indonesia. Jika tidak ada aral melintang, 2028 pusat pemerintahan sudah ada di Kaltim,” ujar Gubernur Harum. Rudy menekankan, kehadiran IKN akan membawa gelombang besar penduduk baru dari seluruh penjuru negeri ke Kaltim.

 

Situasi ini, kata dia, menuntut masyarakat lokal untuk siap berkompetisi secara terbuka, baik dalam dunia pendidikan, tenaga kerja, hingga kualitas hidup. “Kita akan hidup berdampingan dengan masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Maka anak-anak kita wajib mengenyam pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, infrastruktur strategis, hingga perlindungan sosial yang layak,” tegasnya.

 

Gubernur tak menutup mata pada masalah serius yang masih membayangi Kaltim. Tingkat kemiskinan di provinsi ini masih ada di angka 5,78 persen, sementara angka pengangguran juga perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

 

“Ini tidak lain tercermin dari banyaknya anak-anak kita yang tidak lulus SMA. Itu sebabnya, program Pemprov Kaltim hari ini adalah memastikan pendidikan anak-anak bebas tanpa biaya, bahkan sampai jenjang S3,” ucapnya.

 

Menurut Rudy, pendidikan adalah kunci utama memutus mata rantai kemiskinan. “Kalau lulusan SMA hanya bisa menghidupi dirinya sendiri. Tapi kalau S2-S3, akan banyak orang yang bisa dihidupi. Itulah semangat kita,” tambahnya.

 

Rudy menegaskan bahwa langkah-langkah strategis Pemprov Kaltim hari ini bukan hanya untuk menjawab kebutuhan lokal, tetapi juga untuk mengantarkan Indonesia menuju cita-cita besar pada 2045, saat bangsa ini genap berusia satu abad.

 

“Dengan adanya IKN, Kaltim tidak lagi hanya menjadi daerah penopang. Kita adalah etalase bangsa, wajah pertama yang akan dilihat dunia. Maka tidak ada pilihan lain selain menyiapkan generasi emas yang cerdas, sehat, dan berdaya saing,” pungkasnya. (adv/diskominfokaltim/krv/pt/wan)