Vape Tingkatkan Risiko Prediabetes

TITIKWARTA.COM - SAMARINDA  -  Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa penggunaan rokok elektrik atau e-cigarette tidak seaman seperti yang kerap diklaim. Studi ini menemukan, kebiasaan vaping bisa meningkatkan risiko kamu mengalami prediabetes. Bahkan, bagi mereka yang mengkombinasikan rokok konvensional dengan rokok elektrik (dual use), risikonya makin besar.

 

Prediabetes adalah tahap awal sebelum seseorang didiagnosa menderita diabetes tipe 2. Orang dewasa dengan kondisi prediabetes sering kali tidak menunjukkan tanda atau gejala khas diabetes, tetapi kadar gula darah mereka sudah lebih tinggi dari normal. Kadar gula darah normal adalah 70–99 mg/dL. Pada prediabetes, kadar gula darah biasanya meningkat, berada di kisaran 110–125 mg/dL. Kondisi ini bisa dibalik atau dipulihkan jika segera ditangani.

 

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, seorang ekonom kesehatan, Sulakshan Neupane dari Universitas Georgia, bersama timnya menganalisis lebih dari 1,2 juta data. Ini dikumpulkan melalui survei telepon oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat (AS) dengan rentang waktu tahun 2020–2022.

 

Melalui data tersebut, tim peneliti menelusuri kaitan antara penggunaan rokok elektrik terhadap risiko prediabetes maupun diabetes. Studi ini juga melakukan analisis sub kelompok untuk menilai potensi variasi dalam hubungan ini. Analisis dilakukan pada September–Desember 2023.

 

Temuan studi menunjukkan, orang yang hanya menggunakan rokok elektrik memiliki risiko 7 persen lebih tinggi mengalami prediabetes dibandingkan dengan non perokok. Angka ini setara dengan sekitar 7.000 kasus tambahan prediabetes per satu juta pengguna rokok elektrik di AS.

 

Sebagai perbandingan, perokok yang hanya menggunakan produk nikotin konvensional, seperti rokok atau cerutu, memiliki risiko 15 persen lebih tinggi. Sementara itu, mereka yang menggabungkan vaping dan rokok konvensional menanggung risiko paling besar, yaitu 28 persen lebih tinggi daripada non perokok.

 

Tim peneliti juga menemukan bahwa pengguna ganda, mereka yang menggunakan rokok elektrik sekaligus rokok konvensional, memiliki risiko 9 persen lebih tinggi mengalami diabetes dibandingkan dengan non perokok. Angka ini bahkan lebih besar daripada risiko pada perokok konvensional saja yang tercatat meningkat 7 persen.

 

Menurut Neupane, temuan ini menyoroti bahaya tersembunyi di balik promosi rokok elektrik sebagai alternatif yang lebih “aman”. Solusi ini justru bisa berkontribusi pada masalah kesehatan jangka panjang seperti prediabetes dan diabetes.

 

Secara keseluruhan, penelitian ini menambah bukti bahwa vaping bukanlah pilihan bebas risiko, terutama bagi kesehatan metabolik. Meski masih dibutuhkan studi lanjutan untuk memastikan hubungan sebab-akibatnya, tetapi temuan ini sudah cukup menjadi peringatan agar masyarakat lebih bijak dalam menyikapi penggunaan rokok elektrik. (mrf/rin/yal)