Angka yang Terus Turun
Ilustrasi
Raina mulai menimbang tubuhnya setiap pagi sejak ibunya berkata:
---
“Perempuan itu kalau terlalu besar susah dicintai.”
---
Kalimat itu diucapkan sambil mengupas mangga.
Santai.
Tanpa marah.
Tanpa niat melukai.
---
Dan justru itu yang membuatnya bertahan lebih lama di kepala.
---
Awalnya cuma iseng.
Mengurangi nasi malam.
Menolak gorengan.
Minum lebih banyak air.
---
Lalu angka di timbangan turun dua kilo.
Dan semua orang mulai memperhatikannya.
---
“Kamu makin cantik.”
“Cocok diet terus.”
“Muka kamu sekarang kecil.”
---
Manusia memang sering memberi penghargaan paling besar saat seseorang mulai menghilang.
---
Raina tersenyum setiap dipuji.
Padahal tiap malam ia tidur sambil menahan lapar sampai perutnya sakit.
---
Ia mulai takut makan di depan orang lain.
Takut dinilai rakus.
Takut tubuhnya kembali seperti dulu.
---
Yang paling buruk bukan rasa laparnya.
Tapi rasa bersalah setelah makan.
---
Seolah setiap suapan adalah kegagalan pribadi.
---
Ia menghapus foto-foto lamanya.
Berhenti memakai baju longgar.
Mulai menghitung kalori seperti menghitung dosa.
---
Dan angka itu terus turun.
---
48.
49.
50.
---
Setiap kali timbangan bergerak lebih kecil, ada rasa lega aneh di dadanya.
Pendek.
Tipis.
Lalu hilang lagi.
---
Karena ternyata tidak ada angka yang benar-benar cukup.
---
Suatu malam, sahabatnya, Nisa, memegang tangannya dan berkata pelan:
---
“Kamu capek ya?”
---
Raina tertawa kecil.
Refleks.
---
“Enggak kok.”
---
Kebohongan paling umum di dunia.
---
Padahal ia mulai sulit naik tangga.
Kepalanya sering pusing.
Dan rambutnya rontok setiap mandi.
---
Ibunya justru terlihat bangga.
---
“Nah gitu, perempuan harus jaga badan.”
---
Raina ingin bilang bahwa tubuhnya terasa seperti rumah yang perlahan runtuh.
Tapi tidak jadi.
Karena pujian kadang lebih sulit dilawan daripada hinaan.
---
Hari ulang tahunnya tiba beberapa bulan kemudian.
Teman-temannya membawa kue.
Lilin dinyalakan.
Semua bernyanyi.
---
Raina menatap kue itu lama.
Terlalu lama.
---
“Cepat tiup!” kata seseorang sambil tertawa.
---
Tapi ia malah menangis.
---
Pelan dulu.
Lalu tidak bisa berhenti.
---
Semua orang terdiam.
---
“Aku lapar,” katanya akhirnya.
---
Kalimat sederhana.
Tapi terdengar seperti pengakuan dosa.
---
Malam itu ia pulang lebih awal.
Masuk kamar.
Berdiri di depan cermin.
---
Tubuhnya memang lebih kecil sekarang.
Tulang bahunya terlihat.
Pipinya cekung.
Matanya lelah.
---
Dan untuk pertama kalinya…
ia sadar sesuatu yang mengerikan.
---
Ia sudah menghabiskan begitu banyak waktu berusaha mengecilkan tubuhnya…
sampai hampir menghilangkan dirinya sendiri.
---
Sen
