Alarm Kesehatan: Ratusan Ribu Anak Indonesia Terdeteksi Hipertensi, Bukan Lagi Penyakit Lansia
Ilustrasi
TITIKWARTA.COM - Anggapan bahwa tekanan darah tinggi atau hipertensi hanya menyerang kelompok lanjut usia kini resmi terpatahkan. Data terbaru menunjukkan ancaman kesehatan serius yang mulai menyasar generasi muda di Indonesia. Berdasarkan hasil skrining kesehatan sekolah yang dirilis pada Jumat (8/5), ditemukan fakta mengejutkan mengenai kondisi tekanan darah pada anak-anak usia sekolah di tanah air.
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa dalam periode pemeriksaan per Mei 2026, dari sekitar 4,8 juta anak yang menjalani pemeriksaan kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), terdapat sekitar 663.000 anak yang terdeteksi mengalami peningkatan tekanan darah di atas batas normal. Angka ini setara dengan sekitar 13,8 persen dari total populasi anak yang diperiksa, sebuah statistik yang menjadi alarm bagi sistem kesehatan nasional.
Fenomena ini mengonfirmasi bahwa hipertensi pediatrik atau darah tinggi pada anak bukan lagi kasus langka. Lonjakan angka penderita ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi medis bawaan hingga pergeseran pola hidup masyarakat modern yang juga diadopsi oleh anak-anak. Para ahli kesehatan pun mulai menyuarakan kekhawatiran atas dampak jangka panjang jika kondisi ini tidak segera diintervensi.
Menanggapi temuan ini, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari, menjelaskan bahwa hipertensi kini masuk dalam tiga besar penyakit yang mendominasi anak usia sekolah. "Hasil CKG menunjukkan tiga penyakit yang mendominasi anak usia sekolah yakni, darah tinggi, gigi berlubang, dan penumpukan kotoran di telinga," ujar M. Qodari saat memberikan keterangan terkait hasil evaluasi kesehatan tersebut.
Lebih lanjut, faktor medis seperti gangguan ginjal dan kelainan jantung bawaan tetap menjadi penyebab utama secara klinis. Namun, gaya hidup buruk seperti konsumsi makanan tinggi garam dan rendahnya aktivitas fisik turut memperburuk keadaan. Hal ini ditegaskan oleh praktisi kesehatan yang menyoroti pentingnya orang tua memahami faktor-faktor pemicu di luar faktor genetik.
"Selain faktor medis, gaya hidup tidak sehat tetap memegang peranan penting dalam meningkatkan peluang anak mengalami hipertensi di masa pertumbuhan mereka," kata dokter spesialis, Yovi, dalam artikel yang dirilis CNN Indonesia pada Jumat (8/5). Ia menekankan bahwa lingkungan sekitar memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan makan dan bergerak sang anak.
Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa standar tekanan darah pada anak tidak sama dengan orang dewasa. Angka normal anak sangat dinamis, bergantung pada usia, jenis kelamin, serta tinggi badan mereka. Secara umum, kisaran tensi normal anak berada di angka 80/50 mmHg hingga 120/80 mmHg. Jika angka ini terus konsisten di atas batas, maka intervensi medis mutlak diperlukan untuk mencegah kerusakan organ permanen.
Kabar baiknya, hipertensi pada anak masih dapat dikendalikan atau bahkan disembuhkan jika penyebab dasarnya adalah masalah medis yang bisa dikoreksi melalui tindakan medis tertentu. Langkah pencegahan terbaik tetap kembali pada pola hidup sehat, yakni membatasi asupan garam, mendorong anak untuk rutin berolahraga, serta melakukan pengecekan kesehatan berkala guna memastikan masa depan yang lebih sehat bagi buah hati.(yal/tw)
