Ancaman di Balik Piring Kosong: Dampak Melewatkan Sarapan Bagi Tubuh

Ilustrasi sarapan sehat.(Unsplash)

TITIKWARTA.COM - Di tengah padatnya rutinitas pagi hari, melewatkan sarapan kerap menjadi pilihan praktis bagi banyak orang. Namun, kebiasaan membiarkan perut kosong hingga siang hari ini ternyata menyimpan konsekuensi serius bagi fungsi metabolik dan performa tubuh secara keseluruhan.

 

Saat terbangun dari tidur malam, tubuh sebenarnya telah berada dalam kondisi puasa selama 7 hingga 8 jam. Tanpa asupan makanan di pagi hari, kadar glukosa dalam darah akan merosot drastis, padahal glukosa merupakan bahan bakar utama bagi otak dan otot untuk beraktivitas.

 

Dampak paling awal yang langsung terasa saat seseorang melewatkan sarapan adalah penurunan konsentrasi dan rasa lemas yang hebat. Otak yang kekurangan pasokan energi akan kesulitan memproses informasi, membuat seseorang menjadi lebih lekas marah dan tidak fokus dalam bekerja.

 

Tak hanya mengganggu fungsi kognitif, absensinya gizi pagi juga dapat mengacaukan sistem metabolisme tubuh. Ketika tubuh menganggap tidak ada pasokan energi masuk, mekanisme pertahanan alami akan melambatkan pembakaran kalori guna menghemat energi yang tersisa.

 

Pakar nutrisi dan edukator kesehatan, Dr. Maya Rosada, Sp.GK, menjelaskan bahwa dampak negatif melewatkan sarapan justru bisa memicu masalah berat badan di kemudian hari.

 

"Ketika seseorang sengaja tidak sarapan, tubuh akan mengalami lonjakan rasa lapar yang hebat pada siang hari. Akibatnya, mereka cenderung melakukan overeating atau memilih makanan tinggi gula dan lemak jenuh saat makan siang demi memuaskan rasa lapar yang tertahan," terang Dr. Maya Rosada dalam keterangannya hari ini.

 

Selain pola makan yang tak terkontrol, kebiasaan ini juga berdampak buruk pada kesehatan pencernaan. Lambung yang terus memproduksi asam tanpa adanya makanan untuk dicerna berisiko mengalami iritasi, memicu timbulnya penyakit asam lambung atau maag.

 

Dalam jangka panjang, melewatkan sarapan secara rutin dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme yang lebih berat, seperti resistensi insulin yang menjadi cikal bakal diabetes tipe 2 serta penyakit kardiovaskular.

 

Guna mencegah dampak buruk tersebut, masyarakat dianjurkan untuk tetap menyempatkan sarapan dengan menu bergizi seimbang. Dr. Maya Rosada mengimbau agar sarapan tidak dianggap sebagai beban. "Tidak perlu porsi besar, yang terpenting adalah komposisinya. Karbohidrat kompleks yang dipadukan dengan protein dan serat sudah cukup untuk menyalakan kembali mesin metabolisme tubuh di pagi hari," tutupnya.(yal/tw)