Anggota DPRD Samarinda Soroti Masih Maraknya Bullying

TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Wakil Ketua Komisi IV Dewan Pewakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Sani Bin Husein menyebut ada tiga faktor penyebab terjadinya bullying pada anak-anak.

 

 

Lemahnya pengawasan guru di sekolah menurutnya  menjadi salah satu penyebab masih beredarnya kasus bullying di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

 

“Guru itu harus mengawasi muridnya di sekolah. Kadang dia melihat ada anak di pojokan sekolah sedang disakiti, dia malah diam saja,” kata Sani, Jumat (24/11/23).

 

Selanjutnya, faktor lingkungan dan tontonan yang mendominasi dan membentuk karakter anak menjadi seorang pembully di manpun dia berada. Terakhir adalah faktor pendidikan dari orang tuanya atau di rumah.

 

Sani menyebut terkadang anak-anak ini tidak dididik secara optimal di rumah, sehingga kebiasaan buruknya dia bawa ke sekolah.

 

“Jadi itu perlu kerja sama dengan orang tua, saya kira tiga faktor ini yang sangat mempengaruhi anak. Tapi apapun itu, bullying itu harus ditangani, jangan dibiarkan,” tegasnya.

 

Dia juga meminta agar korban bullying agar tidak segan-segan melaporkan tindakan tersebut ke pihak sekolah maupun ke orang tua si pembully. Selain itu, ia juga menyoroti tontonan atau yang saat ini ramai di media sosial (medsos), dimana, menurutnya medsos sendiri seperti parang.

 

“Medsos itu seperti parang ya, kalau parang kita buat menebang pohon atau mengusir tanaman yang merusak itu sangat bermanfaat, berbeda kalau buat kenakan di orang, itu salah,” urainya.

 

Bahkan menurut Sani, medsos ini sejatinya netral, tergantung tuan yang mempergunkannya. Apakah akan menjadi positif atau bahkan bisa menjadi negatif. Kendati demikian, Sani menyebutkan jika saat ini sudah banyak ditemukan anak-anak yang menggunakan medsos dengan bebas.

 

“Salah itu caranya, orang tua memberikan HP lalu anaknya difasilitasi dan diperbolehkan menggunakan dengan bebas, harus di kontrol penggunaannya,” tegasnya.

 

Sani juga tidak ingin di Samarinda terjadi kasus bulliying yang mengakibtkan korban sampai bunuih diri, seperti kasus yang terjadi belakangan ini di daerah lain. Hal itu ia ungkapkan berdasarkan pengalaman pribadinya. Di mana, Sani mengaku anaknya merupakan korban bullying yang hingga saat ini masih membekas.

 

“Anak saya duly korban bullying, sampai sekarang dia masihg ingat dan takut. Harus ke psikiater dulu baru bisa sembuh,” pungkasnya. (adv/wan)