Bayangan di Balik Jendela

Ilustrasi

Malam itu hujan turun deras ketika Dimas menerima pesan dari nomor tak dikenal.

> *"Suamimu sedang berselingkuh."*

Jantung Alya berdegup kencang saat membaca pesan yang diteruskan Dimas kepadanya. Mereka sudah menikah delapan tahun. Tidak pernah ada pertengkaran besar. Tidak pernah ada alasan untuk curiga.

Namun beberapa bulan terakhir, Dimas memang sering pulang larut.

Alya mulai memperhatikan.

Telepon yang selalu dibalik layarnya.

Alasan rapat mendadak.

Senyum kecil saat membaca pesan.

Semua terlihat seperti tanda-tanda perselingkuhan.

Suatu sore, Alya memutuskan mengikuti Dimas diam-diam.

Mobil suaminya berhenti di sebuah kafe kecil di pinggir kota.

Seorang wanita telah menunggu di sana.

Cantik. Berambut panjang. Mengenakan gaun biru muda.

Alya merasakan dadanya sesak.

Ia melihat mereka berbicara hampir dua jam.

Tertawa.

Bahkan sesekali saling menggenggam tangan.

Malam itu Alya menangis.

Ia tidak langsung menuduh.

Ia ingin bukti yang lebih kuat.

Minggu berikutnya ia kembali mengikuti.

Kali ini mereka bertemu di sebuah rumah tua yang tampak kosong.

Alya mengambil foto.

Merekam video.

Semua bukti sudah cukup.

Ketika Dimas pulang malam itu, Alya meletakkan seluruh foto di meja makan.

"Aku tahu semuanya."

Dimas membeku.

Wajahnya pucat.

"Kamu mengikutiku?"

"Aku hanya ingin tahu seberapa lama kau membohongiku."

Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Dimas tidak bisa berkata apa-apa.

Keheningan memenuhi ruangan.

Lalu ia menarik napas panjang.

"Kalau begitu... ikut aku."

---

Mereka pergi ke rumah tua yang sama.

Dimas membuka pintunya.

Lampu menyala.

Alya tertegun.

Dinding rumah dipenuhi foto-foto dirinya.

Foto sejak masa kuliah.

Foto pernikahan.

Foto saat melahirkan anak pertama.

Foto keluarga mereka.

Di tengah ruangan berdiri wanita bergaun biru itu.

Ia tersenyum gugup.

"Aku Maya. Arsitek interior."

Dimas menatap Alya.

"Aku membeli rumah ini enam bulan lalu."

"Untuk apa?"

"Untuk ulang tahun pernikahan kita yang kesembilan."

Alya memandang sekeliling.

Rumah itu sedang direnovasi menjadi rumah impian yang dulu pernah ia ceritakan kepada Dimas bertahun-tahun lalu.

Teras luas.

Perpustakaan kecil.

Dapur dengan jendela besar menghadap taman.

Semuanya persis seperti yang pernah ia impikan.

Alya merasa lututnya lemas.

"Jadi... tidak ada perselingkuhan?"

"Tidak pernah."

Air mata Alya jatuh.

Rasa lega bercampur malu.

Namun saat itulah Maya terlihat gelisah.

Sangat gelisah.

Dimas juga menyadarinya.

"Ada apa?"

Maya menggigit bibir.

Lalu mengeluarkan ponselnya.

"Aku tidak bisa terus menyimpan ini."

Ia membuka sebuah pesan anonim.

Pesan yang sama seperti yang diterima Alya.

> *"Suamimu sedang berselingkuh."*

Namun kali ini pengirimnya berbeda.

Maya membuka identitas akun tersebut.

Foto profilnya muncul.

Semua orang di ruangan itu membeku.

Karena foto profil itu adalah wajah Alya sendiri.

---

"Apa ini?"

Alya mundur satu langkah.

"Aku tidak pernah membuat akun itu."

Maya menelan ludah.

"Akun ini dibuat menggunakan email lama milikmu."

Dimas memandang istrinya dengan bingung.

Alya mencoba mengingat.

Email lama itu sudah bertahun-tahun tidak dipakai.

Tiba-tiba wajahnya memucat.

"Astaga..."

"Siapa?" tanya Dimas.

Alya menutup mulutnya.

"Tiga tahun lalu aku memberikan password email itu kepada seseorang."

"Siapa?"

Air matanya mengalir.

"Adikku."

Mereka segera menghubungi adik Alya.

Dan akhirnya kebenaran muncul.

Selama bertahun-tahun ia diam-diam mencintai Dimas.

Bukan cinta yang sehat.

Melainkan obsesi.

Ia tahu Dimas tidak pernah memberi harapan.

Karena itu ia berusaha menghancurkan pernikahan mereka dengan menciptakan ilusi perselingkuhan.

Mengirim pesan anonim.

Menyebarkan kecurigaan.

Membiarkan Alya menghancurkan rumah tangganya sendiri.

---

Malam itu Alya duduk di ruang kosong rumah impiannya.

Dimas menggenggam tangannya.

"Untung kamu memilih mencari kebenaran."

Alya tersenyum pahit.

"Nyaris saja aku menghancurkan semuanya karena percaya pada apa yang kulihat."

Dimas memandang hujan di luar jendela.

"Kadang yang paling berbahaya bukan kebohongan."

"Apa?"

"Melainkan potongan-potongan kebenaran yang sengaja disusun agar terlihat seperti kebohongan."

Dan di luar sana, hujan terus turun.

Membasuh jejak-jejak prasangka yang hampir meruntuhkan sebuah keluarga.

 

---

Sen