Catatan Harian Arga, Manusia Kantoran Biasa (5)

EPISODE 5

HIDUP SEWAAN : MASAK SENDIRI LEBIH HEMAT, KATANYA

 

Tanggal masih 12.

Saldo Arga sudah menunjukkan gejala-gejala ingin berpisah.

Malam itu ia duduk bersama Bayu di teras kos sambil menghitung pengeluaran.

“Makan lu sehari berapa?” tanya Bayu.

Arga menghitung.

“Kalau tiga kali, mungkin tujuh puluh ribuan.”

“Sebulan dua juta.”

Arga langsung duduk tegak.

“Enggak mungkin.”

Bayu membuka kalkulator.

70.000 × 30 = 2.100.000.

Arga menatap angka itu dengan ekspresi seseorang yang baru mengetahui sedang ditipu.

Padahal pelakunya dirinya sendiri.

“Mulai besok gue masak.”

Bayu mengangguk.

“Bagus.”

“Lebih hemat.”

“Betul.”

“Lebih sehat.”

“Betul.”

Arga berdiri penuh semangat.

“Gue ke supermarket.”

Bayu melihat jam.

“Sekarang?”

“Investasi.”

Bayu tidak tahu mengapa setiap keputusan finansial buruk Arga selalu diawali dengan kata investasi.

---

Satu jam kemudian Arga pulang membawa dua kantong besar.

Beras.

Telur.

Ayam.

Sayur.

Bawang.

Cabai.

Saus tiram.

Kecap.

Minyak.

Kaldu.

Talenan baru.

Pisau baru.

Wadah bumbu.

Dan celemek bertuliskan:

CHEF IN PROGRESS.

Bayu memandang belanjaannya.

“Berapa?”

“Empat ratus delapan puluh.”

Bayu terdiam.

“Katanya mau hemat?”

Arga tersinggung.

“Ini modal awal.”

“Celemek juga modal?”

“Menunjang suasana.”

“Talenan di dapur ada.”

“Yang itu bekas motong bawang.”

“Memang talenan buat apa?”

Arga tidak menjawab.

Ada pertanyaan yang terlalu teknis untuk seorang visioner.

---

Besok malam, proyek penghematan resmi dimulai.

Menu pertama:

Ayam kecap.

Arga menonton tutorial di ponsel.

“Masukkan bawang secukupnya.”

Ia berhenti.

Secukupnya itu berapa?

Dua?

Lima?

Satu genggam?

Mengapa resep masakan sering menggunakan ukuran berdasarkan perasaan?

Arga memasukkan empat.

Kemudian video berkata:

“Tambahkan garam sesuai selera.”

Arga semakin kesal.

Kalau dia sudah punya selera, dia tidak perlu menonton tutorial.

Akhirnya semua dimasukkan berdasarkan keyakinan.

Kecap.

Saus tiram.

Garam.

Kaldu.

Sedikit gula.

Arga mengaduk.

Warnanya bagus.

Ia mencicipi.

Diam.

Bayu yang duduk di meja bertanya,

“Gimana?”

Arga mencicipi lagi.

“Kompleks.”

“Maksudnya?”

“Rasanya banyak.”

Bayu mencoba.

Lalu mengambil air minum.

“Ga.”

“Apa?”

“Ini ayam kecap atau air laut?”

---

Arga tidak menyerah.

Ia menambahkan air.

Terlalu banyak.

Sekarang rasanya tidak asin.

Tidak manis.

Tidak gurih.

Tidak jelas.

Ayam itu seperti kehilangan identitas.

Arga menambahkan kecap lagi.

Lalu garam.

Kemudian air lagi karena kembali asin.

Proses itu berlangsung beberapa putaran sampai panci hampir penuh.

Bayu memperhatikan dari jauh.

“Lu masak buat siapa?”

“Gue.”

“Kenapa porsinya kayak buat hajatan?”

Arga melihat panci.

Benar juga.

Entah bagaimana empat potong ayam telah berkembang menjadi kuah sebanyak persediaan satu RT.

---

Mereka akhirnya makan.

Bayu mengambil satu suap.

“Lumayan.”

Arga tersenyum bangga.

“Kan.”

“Kalau lapar banget.”

Senyumnya hilang.

“Lu enggak usah makan.”

“Eh, jangan. Udah terlanjur lapar banget.”

Malam itu Arga berhasil menghabiskan satu piring.

Sisanya dimasukkan kulkas.

Masih banyak.

Sangat banyak.

“Besok tinggal dipanasin,” katanya.

Bayu mengangguk.

“Hemat.”

Arga tersenyum puas.

Akhirnya rencana finansialnya berhasil.

---

Besok siang di kantor, Arga membuka bekal ayam kecap.

Rina melirik.

“Wah, bawa bekal sekarang?”

“Mulai hidup hemat.”

Rina mencicipi sedikit.

Lalu diam.

Arga menunggu.

“Gimana?”

Rina mengambil air.

Arga langsung tahu.

“Masih asin?”

“Enggak.”

“Terus?”

Rina berpikir mencari kata yang tidak merusak persahabatan.

“Rasanya... tegas.”

---

Hari ketiga, ayam kecap masih ada.

Hari keempat, masih ada.

Hari kelima, Arga membuka kulkas.

Kotak ayam itu menatapnya.

Arga menatap balik.

Hubungan mereka sudah berubah.

Dulu makanan.

Sekarang tanggung jawab.

Bayu muncul.

“Masih ada?”

Arga mengangguk.

“Mau?”

“Enggak.”

“Gratis.”

“Enggak.”

“Gue kasih telur.”

“Enggak.”

Arga mulai memahami bahwa ada titik di mana makanan gratis pun kehilangan daya tarik.

Akhirnya malam itu ia menyerah.

“Yu.”

“Hm?”

“Geprek?”

Bayu langsung berdiri.

“Gas.”

Mereka memesan ayam geprek.

Sambil menunggu, Arga menghitung biaya eksperimen memasaknya.

Belanja bahan: 480 ribu.

Gas patungan: 50 ribu.

Ayam geprek malam ini: 28 ribu.

Total: 558 ribu.

Bayu melihat kalkulatornya.

“Kalau lu dari awal beli makan?”

Arga mematikan layar.

“Jangan hitung.”

“Kenapa?”

“Ilmu pengetahuan tidak selalu membawa kebahagiaan.”

---

Malam itu Arga mencoret satu target di catatan keuangannya.

MASAK SENDIRI AGAR LEBIH HEMAT.

Ia menggantinya dengan:

MASAK SENDIRI KALAU LAGI PENGEN MASAK.

Lebih realistis.

Sebelum tidur, Arga membuka media sosial.

Muncul video:

MEAL PREP 7 HARI, CUMA 100 RIBU!

Arga menonton sampai selesai.

Matanya mulai berbinar.

Dari kamar sebelah terdengar suara Bayu.

“JANGAN!”

Arga kaget.

“Lu tahu dari mana?!”

“GUE UDAH KENAL LU!”

Arga menutup videonya.

Kadang dalam hidup kita memang membutuhkan seorang sahabat.

Bukan untuk mendukung semua keputusan kita.

Tapi untuk menghentikan kita sebelum membeli dua belas kotak bekal karena sedang diskon.

— BERSAMBUNG —