Catatan Harian Arga, Manusia Kantoran Biasa (7)

EPISODE 7

HIDUP SEWAAN : NIAT TIDUR CEPAT

 

Pukul 21.30 Arga sudah mandi.

Pekerjaan selesai.

Alarm terpasang.

Lampu kamar diredupkan.

Malam ini Arga punya satu rencana sederhana.

Tidur cepat.

“Jam sepuluh gue tidur,” katanya kepada Bayu.

Bayu yang sedang lewat depan kamar berhenti.

“Kenapa ngomong ke gue?”

“Biar ada saksi.”

“Buat apa?”

“Komitmen.”

Bayu mengangguk.

“Oke.”

Lalu pergi dengan wajah seseorang yang tahu komitmen itu tidak akan bertahan lama.

---

Pukul 21.42 Arga sudah di kasur.

Ia mengambil ponsel.

Bukan untuk main.

Hanya mengecek sebentar.

WhatsApp.

Tidak ada yang penting.

Instagram.

Lihat dua-tiga postingan.

Kemudian muncul satu video:

KENAPA TOMBOL ANGKA DI KALKULATOR DISUSUN BERBEDA DENGAN TELEPON?

Arga berhenti.

“Hah?”

Ia menonton.

Menarik.

Video berikutnya muncul.

BEGINILAH CARA KUCING MELIHAT MANUSIA.

Arga sebenarnya tidak punya kucing.

Tapi sekarang ia perlu tahu.

---

Beberapa video kemudian Arga menemukan seseorang membersihkan karpet yang sangat kotor.

Ia tidak tahu siapa orangnya.

Tidak tahu di negara mana.

Tidak tahu mengapa karpet itu bisa sekotor itu.

Tapi Arga tidak mungkin tidur sebelum tahu hasil akhirnya.

“Gila, bersih juga.”

Video selesai.

Arga melihat jam.

23.18.

Ia langsung duduk.

“Loh?”

Menurut perasaannya, tadi baru sekitar dua puluh menit.

Ternyata satu jam lebih hidupnya telah diberikan kepada karpet milik orang asing.

---

Arga meletakkan ponsel.

“Tidur.”

Lima menit kemudian matanya masih terbuka.

Otaknya mulai bekerja.

Besok laporan udah dikirim belum?

Sudah.

Pintu dikunci?

Sudah.

Motor tadi diparkir di mana?

Depan.

Lalu tanpa alasan jelas:

Kenapa dulu pas kelas lima SD gue pernah manggil Bu Guru ‘Mama’?

Arga membuka mata.

“Kenapa ingat itu sekarang?”

Otak manusia memang unik.

Seharian disuruh mengingat password: lupa.

Pukul sebelas malam: arsip penghinaan tahun 2009 dibuka lengkap.

---

Pukul 00.07 Bayu pergi ke dapur mengambil air.

Ia melihat cahaya dari kamar Arga.

“Ga?”

“Hm?”

“Katanya jam sepuluh tidur.”

Arga masih memegang ponsel.

“Gue enggak bisa tidur.”

Bayu melihat layar.

“Lu lagi nonton apa?”

Arga menunjukkan video.

PROSES PEMBUATAN PENSIL DI PABRIK.

Bayu terdiam.

“Penting?”

“Enggak.”

“Terus?”

Arga ikut terdiam.

“Udah setengah jalan.”

Bayu mengangguk pelan.

“Yaudah. Tanggung.”

“Kan?”

“Besok jangan ngeluh ngantuk.”

---

Pukul 00.43 Arga akhirnya mematikan ponsel.

Ia memasang alarm pukul 05.30.

Lalu menghitung.

Empat jam empat puluh tujuh menit.

Masih bisa.

Entah berdasarkan ilmu apa.

Arga memejamkan mata.

Besok malam ia harus tidur lebih cepat.

Serius.

Tidak boleh main ponsel.

Pukul sepuluh sudah tidur.

Ia berjanji kepada dirinya sendiri.

Dan seperti semua janji Arga yang dibuat menjelang tidur...

kedengarannya sangat masuk akal.

Sampai besok malam tiba.

— BERSAMBUNG —