Daftar yang Diselipkan di Bawah Kasur
Ilustrasi
Waktu kecil, Dara percaya semua mimpi harus ditulis.
Katanya supaya semesta bisa membaca.
Itu yang dia dengar dari guru Bahasa Indonesianya kelas lima. Guru honorer dengan tas lusuh dan keyakinan berlebihan tentang kekuatan kata-kata. Manusia miskin memang sering menggantungkan harapan pada hal abstrak karena yang konkret terlalu mahal.
---
Jadi Dara mulai menulis.
Bukan di buku bagus.
Hanya di potongan kertas bekas nota, bungkus beras, halaman belakang kalender.
Lalu diselipkannya di bawah kasur tipis kamar kontrakan mereka.
---
Isinya sederhana.
Punya sepatu putih baru.
Bisa ikut study tour.
Ibu berhenti kerja malam.
Bapak pulang.
---
Yang terakhir tidak pernah tercapai.
Ayahnya pergi saat Dara kelas dua SD dan tidak kembali lagi. Tidak meninggalkan alamat. Tidak meninggalkan uang. Hanya meninggalkan utang dan wajah lelah ibunya.
Kepergian laki-laki sering dianggap tragedi romantis di film. Di dunia nyata, itu biasanya cuma soal pengecut yang bosan bertanggung jawab.
---
Ibunya bekerja di laundry kiloan pagi sampai sore, lalu lanjut membungkus nasi kuning malam hari.
Tangannya selalu bau deterjen.
Punggungnya mulai bungkuk di usia empat puluhan.
Tapi tiap pulang, ia tetap bertanya:
“Hari ini sekolahnya gimana?”
Seolah tubuh manusia bisa dipisah antara lelah dan kasih sayang.
---
Dara tumbuh jadi anak yang pendiam.
Bukan karena pemalu.
Karena terlalu sering merasa tidak punya sesuatu yang cukup menarik untuk diceritakan.
---
Di sekolah, anak-anak lain bicara soal liburan, ponsel baru, tempat makan hits.
Dara sibuk menghitung apakah uang sakunya cukup untuk fotokopi tugas.
---
Tapi ia pintar.
Sangat pintar.
Guru-guru suka padanya.
Teman-teman tidak terlalu.
Manusia jarang nyaman melihat seseorang bertahan hidup lebih baik dari yang diperkirakan.
---
Suatu hari, wali kelas meminta semua murid menuliskan cita-cita di secarik kertas untuk dimasukkan ke “kotak mimpi”.
Anak-anak lain menulis dokter, polisi, artis, YouTuber.
Dara lama menatap kertas kosongnya.
Lalu ia menulis:
Saya ingin punya hidup yang tidak membuat ibu menangis diam-diam di kamar mandi.
---
Wali kelas membacanya diam-diam malam itu.
Besoknya, beliau memanggil Dara setelah jam pelajaran selesai.
---
“Kamu baik-baik aja di rumah?”
---
Dara langsung panik.
Anak dari keluarga susah biasanya punya refleks aneh: takut dikasihani.
---
“Saya bercanda, Bu.”
---
Padahal tidak.
---
Waktu berjalan.
Dara lulus SMA dengan nilai bagus.
Masuk universitas negeri di kota lain lewat beasiswa.
Ibunya menangis waktu mengantar ke terminal.
---
“Kalau capek, pulang aja,” katanya.
---
Kalimat yang cuma bisa diucapkan ibu miskin. Karena mereka tahu dunia tidak ramah terhadap anak yang tidak punya pegangan.
---
Kuliah ternyata lebih sulit daripada yang dibayangkan.
Bukan pelajarannya.
Hidupnya.
---
Dara kerja sambilan.
Jaga toko fotokopi.
Menjadi penerjemah tugas.
Kadang makan mi instan dua hari berturut-turut supaya uangnya cukup sampai akhir bulan.
---
Di kampus, teman-temannya mengeluh soal kopi terlalu pahit atau AC kelas kurang dingin.
Dara mengangguk saja.
Manusia hidup di level masalah yang berbeda-beda.
---
Suatu malam, kontrakan kecilnya kebanjiran karena hujan deras.
Buku-bukunya basah.
Kasurnya lembap.
Ia duduk sendirian sambil memeras kain lap.
Lalu mendadak menangis.
Bukan karena banjir.
Karena lelah.
---
Kadang mimpi ternyata bukan sesuatu yang indah.
Kadang mimpi hanya alasan agar seseorang terus bertahan meski hidupnya terasa memalukan.
---
Besok paginya, ia mendapat telepon dari tetangga rumah.
Ibunya pingsan saat bekerja.
---
Dunia mendadak sunyi.
---
Dara pulang hari itu juga.
Rumah mereka masih sama.
Dinding retak.
Kipas tua berisik.
Bau minyak kayu putih.
---
Ibunya tidur di kamar sambil tersenyum kecil saat melihat Dara datang.
Dan entah kenapa, itu membuat Dara semakin ingin menangis.
---
Saat membereskan kamar, Dara menemukan sesuatu di bawah kasur lama.
Kotak plastik kusam.
Isi potongan-potongan kertas masa kecilnya.
---
Semua mimpi itu masih ada.
Tulisan tangannya masih jelek.
Masih polos.
Masih percaya hidup bisa dinegosiasikan lewat harapan.
---
Lalu ia menemukan satu kertas yang tidak pernah ia ingat menulisnya.
Tulisan ibunya.
---
Dara bisa sekolah tinggi.
Dara jangan jadi seperti ibu.
Kalau nanti ibu nggak ada, semoga Dara tetap merasa dicintai.
---
Dara membaca itu berkali-kali.
Tangannya gemetar.
---
Dan untuk pertama kali setelah bertahun-tahun mengejar masa depan…
ia sadar sesuatu yang menyakitkan:
---
selama ini bukan cuma dirinya yang diam-diam menyimpan mimpi di bawah kasur.
Ibunya juga.
Dan seperti kebanyakan orang tua…
mimpi itu seluruhnya tentang anaknya, bukan dirinya sendiri.
---
Sen
