Dispar Gelar Pelatihan Musik Tradisonal Pesisir dan Pedalaman
TITIKWARTA.COM - SANGATTA – Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Timur (Kutim) menggelar pelatihan Musik Tradisional Pesisir dan Pedalaman, yang diikuti sebanyak 50 peserta yang terdiri dari paguyuban seni. Di Hotel Royal Victoria. Sabtu (25/11/2023).

Kepala Dispar Kutim, Nurullah, pada sambutannya menyampaikan rasa syukurnya atas keberlangsungan pelatihan Musik Tradisional Pesisir dan Pedalaman di pagi hari ini.
“Semoga apa yang kita laksanakan ini bisa bermanfaat untuk kita semua, untuk Kutai Timur dan Indonesia pada umumnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari amanah Undang-undang Ekonomi Kreatif (Ekraf), yang menetapkan tanggung jawab pemerintah dalam membina dan melatih para pelaku Ekraf.
“Musik ini salah satu dari 17 sub sektor Ekraf, untuk itu saya berharap kepada semua (peserta) untuk bisa mengikuti secara seksama, sehingga musik tradisional itu bisa tetap tumbuh dan berkembang di Kutai Timur,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menekankan bahwa pelatihan tersebut memiliki peran penting dalam melindungi dan memelihara warisan budaya seperti musik tradisional. Dengan adanya pembinaan, diharapkan para peserta, yang mayoritas berasal dari paguyuban atau sanggar tari, dapat mentransfer ilmu yang mereka peroleh kepada generasi muda.
Dan para peserta pelatihan diharapkan dapat memperoleh pengetahuan mendalam tentang musik tradisional. Terutama instrumen tradisional seperti sapeh dan gambus. Tak hanya itu ia juga mengatakan, pentingnya pelatihan dalam menanggapi kekhawatiran akan hilangnya generasi penerus yang mampu melestarikan budaya tradisional ini.
“Nanti bapak/ibu sekalian akan dibekali dengan ilmu musik tradisional seperti sapeh dan gambus. Kita mencari generasi-generasi penerus itu sudah agak langka, mungkin karena tidak ada pelatihan, sehingga yang punya ilmu itu generasi-generasi lama. Maka untuk itu, karena ini masuk dalam undang-undang ekraf, maka itu tanggung jawab pemerintah untuk mengembangkannya,” ujarnya.
Terakhir, ia juga menyoroti fakta, bahwa daerah-daerah yang maju selalu berakar pada pelestarian budaya tradisional. Menurutnya, budaya tradisional merupakan daya tarik bagi wisatawan, terutama mereka yang mencari pengalaman dengan musik-musik tradisional.
“Karena daerah-daerah yang maju itu, tidak lepas dari budaya-budaya (tradisional) yang dilestarikan. Karena seperti orang-orang asing (bule) itu mereka tidak mencari musik yang modern, tapi yang dicari musik-musik tradisional,” jelasnya. (ADV)
