KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (2)
SERI 2 BAGIAN 1
ANAK YANG TIDAK DIINGAT
Raka terbangun pukul lima lewat dua belas menit dengan napas tersengal dan tangan masih mencengkeram ponsel. Semalam ia tertidur tanpa mengganti seragam, tanpa makan malam, dan tanpa sempat memastikan apakah anak di seberang halte itu benar-benar ada atau hanya hasil kerja sama antara ketakutan, kelelahan, dan otaknya yang memang sering mengambil keputusan buruk. Layar ponselnya masih menampilkan pesan terakhir dari pengirim bernama Nomor 36.
Besok, mereka tidak akan mengingatmu.
Raka membaca kalimat itu sekali lagi. Lalu dua kali. Setelah lima kali, ia memutuskan tidak ada gunanya membaca pesan ancaman berulang-ulang karena ancaman tidak akan berubah menjadi ucapan selamat pagi hanya karena dibaca dengan penuh harapan. Ia mencoba membuka profil pengirim, tetapi tidak ada foto, tidak ada nomor telepon, dan tidak ada keterangan apa pun. Anehnya, pesan tersebut juga tidak bisa diteruskan, disalin, ataupun dihapus. Setiap kali Raka menekan layar, ponselnya hanya bergetar pendek seperti sedang menertawakannya.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berdiri di depan cermin. Wajahnya masih ada. Rambutnya tetap berantakan. Jerawat kecil di dagunya masih setia bertahan sejak tiga hari lalu. Semua tampak normal. Untuk memastikan dirinya belum menghilang, Raka mencubit pipinya sendiri.
“Aduh.”
Sakit.
Berarti ia masih nyata.
Setidaknya menurut pipinya.
Dari dapur terdengar suara ibunya menyalakan kompor. Aroma bawang goreng mulai memenuhi rumah. Raka keluar kamar dengan langkah hati-hati. Ia tidak tahu mengapa ia berjalan seperti pencuri, padahal rumah itu milik keluarganya sendiri. Mungkin karena pesan semalam membuatnya merasa seperti tamu di hidupnya sendiri.
Ibunya sedang menggoreng telur ketika Raka berdiri di ambang pintu.
“Bu,” panggilnya pelan.
Ibunya menoleh. “Kenapa berdiri di situ? Mau bantu atau mau menghalangi angin?”
Raka mengembuskan napas lega.
“Ibu kenal aku?”
Spatula di tangan ibunya berhenti bergerak.
“Tidak.”
Dada Raka terasa jatuh.
Ibunya kemudian melanjutkan, “Kamu siapa? Penagih utang?”
Raka mematung.
Dua detik kemudian ibunya tertawa.
“Ya ampun, wajahmu. Ibu bercanda.”
“Bu, jangan bercanda begitu pagi-pagi.”
“Memangnya kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
Ibunya menatapnya lebih lama. “Kamu sakit?”
Raka menggeleng.
“Demam?”
“Enggak.”
“Belum mengerjakan tugas?”
“Bukan.”
“Ketahuan guru?”
“Bukan juga.”
Ibunya menyipitkan mata. “Berarti kamu mau minta uang.”
“Kenapa kesimpulan Ibu selalu begitu?”
“Karena pengalaman adalah guru terbaik.”
Raka duduk di meja makan. Di satu sisi, ia lega ibunya masih mengenalinya. Di sisi lain, ia tidak tahu apakah ancaman itu palsu atau hanya belum dimulai. Ia teringat foto kelas, dua nama Raka Pradana, dan sosok yang berkata, Kembalikan tempatku. Buku biru itu masih berada di dalam tas. Raka sempat ingin memperlihatkannya kepada ibunya, tetapi urung. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa ada anak yang mirip dengannya muncul di foto kelas dan mungkin sedang mencoba mengambil identitasnya? Ibunya bisa saja menganggap ia terlalu sering bermain ponsel, kurang minum air putih, atau kerasukan karena tidur belum mencuci kaki. Semua ibu memiliki kemampuan menghubungkan masalah apa pun dengan air putih dan kebersihan kaki.
Sebelum berangkat, Raka memeriksa buku biru sekali lagi. Tulisan di halaman terakhir masih sama.
Kalau kamu menemukan buku ini, berarti mereka sudah mulai lupa.
Namun kini ada kalimat tambahan di bawahnya.
Yang pertama hilang bukan wajahmu. Yang pertama hilang adalah namamu.
Raka hampir menjatuhkan buku itu. Ia yakin semalam hanya ada satu kalimat. Tinta kalimat baru terlihat masih mengilap, seolah baru ditulis beberapa detik lalu.
“Rak! Sarapan!” teriak ibunya.
Raka buru-buru menutup buku, memasukkannya ke tas, lalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa mungkin ia tidak teliti semalam. Mungkin tulisan itu memang sudah ada. Mungkin rasa takut membuat ingatannya kacau. Mungkin juga buku itu dihuni hantu yang sangat suka menulis kalimat dramatis.
Kemungkinan terakhir terasa paling buruk, tetapi entah kenapa paling masuk akal.
Perjalanan ke sekolah berlangsung lebih lama karena Raka beberapa kali berhenti untuk memastikan orang-orang masih bisa melihatnya. Tukang bubur di ujung gang menegurnya. Seorang ibu meminta ia minggir karena sepedanya menghalangi jalan. Anak kecil di depan warung menertawakan rambutnya. Semua orang jelas masih menyadari keberadaannya.
Raka mulai merasa sedikit bodoh.
Mungkin pesan itu cuma lelucon.
Mungkin Dimas pelakunya.
Dimas memang tidak cukup pintar untuk meretas ponsel, tetapi ia cukup iseng untuk belajar. Selain itu, hanya Dimas yang tahu Raka mudah panik kalau sedang sendirian. Raka mulai menyusun rencana balas dendam. Ia akan memasukkan kecoak plastik ke kotak pensil Dimas, lalu menyebarkan kabar bahwa kantin akan berhenti menjual gorengan selama sebulan. Dimas mungkin akan menangis.
Namun perasaan lega itu lenyap saat Raka tiba di gerbang sekolah.
Pak Sabar sedang berdiri seperti biasa dengan papan catatan di tangan. Raka melambatkan sepeda, menunggu teguran soal waktu atau seragamnya yang belum terlalu rapi. Tetapi Pak Sabar tidak melihatnya. Tatapan guru piket itu melewati Raka begitu saja dan berhenti pada seorang siswa di belakangnya.
“Kancing bajumu,” tegur Pak Sabar.
Siswa itu buru-buru merapikan seragam.
Raka turun dari sepeda dan berdiri tepat di depan Pak Sabar.
“Pagi, Pak.”
Tidak ada jawaban.
“Pak?”
Pak Sabar tetap menulis sesuatu.
Raka melambaikan tangan di depan wajahnya.
Pak Sabar tiba-tiba menepis udara. “Nyamuk dari mana pagi-pagi begini?”
Raka mundur satu langkah.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Ia mencoba lagi. “Pak Sabar, ini saya.”
Pak Sabar menoleh ke kanan dan kiri, lalu mengernyit. “Siapa?”
Raka merasakan tengkuknya dingin.
Siswa-siswa lain berjalan melewati gerbang. Beberapa hampir menabraknya, tetapi tidak satu pun meminta maaf atau menoleh. Seorang anak kelas tujuh bahkan menyenggol bahunya, lalu terus berjalan seolah yang ditabraknya hanya tiang.
Raka menahan napas.
Pesan itu benar.
Mereka mulai tidak mengingatnya.
Ia segera berlari menuju kelas VIII-B. Di lorong, suara anak-anak terdengar biasa. Ada yang membicarakan tugas, ada yang berdebat soal siapa yang harus menghapus papan tulis, dan ada yang berlari karena bel hampir berbunyi. Semua terasa normal, kecuali fakta bahwa tak seorang pun melihat Raka.
Pintu kelas terbuka.
Dimas sedang duduk di atas meja sambil menceritakan sesuatu kepada Farel dan Livia.
“Terus aliennya turun dari atap sekolah,” kata Dimas penuh semangat, “lalu menculik guru matematika karena mereka juga butuh orang pintar.”
“Kenapa bukan kamu yang diculik?” tanya Livia.
“Alien punya standar.”
Raka langsung mendekat.
“Dimas!”
Dimas tidak bereaksi.
“Dim!”
Raka menepuk bahunya.
Dimas terlonjak dan menoleh cepat. “Siapa itu?”
Raka membeku.
Dimas memandangi udara di belakangnya, lalu mengusap bahu.
“Kenapa?” tanya Farel.
“Kayak ada yang nepuk.”
Livia mendengus. “Perasaanmu saja.”
“Jangan-jangan alien.”
“Aliens tidak akan mulai penculikan dari kamu.”
Raka menatap sahabatnya. Wajah Dimas benar-benar tidak menunjukkan tanda mengenalinya. Tidak ada senyum, tidak ada lelucon tentang kesialan, tidak ada tatapan curiga. Hanya kebingungan sesaat, kemudian ia kembali melanjutkan pembicaraan.
Raka menggenggam tali tasnya erat-erat.
Ia berjalan ke bangkunya.
Bangku itu kosong.
Tidak ada buku, tidak ada coretan namanya, tidak ada bekas stiker klub sepak bola yang ia tempel diam-diam di bawah meja. Meja itu seperti belum pernah digunakan.
Raka membuka laci.
Kosong.
Padahal kemarin ia meninggalkan penggaris patah, bungkus permen, dan satu lembar tugas IPA yang belum dikumpulkan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Raka benar-benar merindukan tugas yang belum dikumpulkan.
Pak Junaidi masuk sambil membawa daftar hadir baru.
“Duduk semua.”
Bersambung....
---
Sen
