Langkah yang Tidak Membawa Pulang
Orang-orang mengira perjalanan jauh selalu tentang menemukan sesuatu.
Tempat baru.
Jawaban baru.
Kehidupan baru.
---
Tapi bagi Dara, perjalanan itu justru dimulai ketika ia kehilangan sesuatu.
---
Tahun itu ia berangkat sendirian.
Meninggalkan kota yang penuh kenangan.
Meninggalkan rumah yang menyimpan terlalu banyak cerita.
Dan meninggalkan seseorang yang dulu ia kira akan menjadi tujuan akhirnya.
---
Namanya Arga.
---
Mereka pernah percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa dipertahankan selama dua orang masih saling menggenggam.
Mereka salah.
---
Ada cinta yang tidak berakhir karena hilang.
Ada cinta yang selesai karena manusia berubah.
---
Arga adalah orang pertama yang mengajarkan Dara tentang keberanian.
Tapi juga orang pertama yang mengajarkan bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal.
---
“Aku ingin pergi mencari diriku sendiri,” kata Arga waktu itu.
---
Kalimat yang terdengar indah.
Tapi sering kali meninggalkan orang lain dengan pertanyaan yang tidak indah.
---
Dara tidak mengejar.
Tidak memohon.
Tidak marah.
---
Ia hanya menyimpan luka itu diam-diam.
Sampai suatu hari ia sadar:
ia bukan kehilangan seseorang.
Ia kehilangan bayangan masa depan yang ia bangun bersama seseorang.
---
Maka ia pergi.
---
Bukan untuk melupakan.
Tapi untuk memahami.
---
Perjalanannya membawa Dara ke tempat-tempat yang tidak pernah ia rencanakan.
Desa kecil.
Jalan panjang.
Rumah singgah sederhana.
---
Di sana ia bertemu banyak orang.
Orang-orang yang juga sedang berjalan dengan alasan masing-masing.
---
Seorang lelaki tua yang meninggalkan kota setelah istrinya meninggal.
Seorang perempuan muda yang mencari keberanian untuk memulai hidup baru.
Seorang anak kecil yang percaya bahwa setiap perjalanan pasti punya akhir bahagia.
---
Dara belajar sesuatu.
---
Ternyata semua orang membawa kehilangan.
Hanya bentuknya berbeda.
---
Ada yang kehilangan orang.
Ada yang kehilangan waktu.
Ada yang kehilangan dirinya sendiri.
---
Suatu sore, Dara duduk di dekat sungai.
Ia membuka surat lama dari Arga.
Surat yang tidak pernah ia baca ulang.
---
*"Kalau suatu hari kamu membenciku karena pergi, aku mengerti."*
---
Dara berhenti membaca.
---
*"Tapi aku berharap kamu tahu, bukan semua perpisahan terjadi karena seseorang berhenti mencintai."*
---
Angin bergerak pelan.
---
*"Kadang dua orang saling mencintai, tapi tetap berjalan ke arah yang berbeda."*
---
Untuk pertama kalinya, Dara tidak merasa marah.
---
Ia tidak membenarkan kepergian Arga.
Tapi ia berhenti menjadikan dirinya korban dari cerita itu.
---
Karena hidup tidak selalu memberikan akhir yang kita minta.
---
Kadang hidup hanya memberikan kesempatan untuk memahami.
---
Beberapa tahun kemudian, Dara kembali ke kotanya.
---
Banyak hal berubah.
Jalan yang dulu ia kenal menjadi berbeda.
Orang-orang yang dulu dekat sudah memiliki hidup masing-masing.
---
Termasuk Arga.
---
Mereka bertemu secara tidak sengaja.
---
Tidak ada tangisan.
Tidak ada adegan dramatis.
---
Hanya dua orang yang pernah saling mencintai, lalu belajar bahwa cinta bukan selalu tentang memiliki.
---
“Kamu bahagia?” tanya Arga.
---
Dara tersenyum.
---
“Sekarang iya.”
---
“Tanpaku?”
---
Dara melihat langit sore.
---
“Dengan atau tanpa siapa pun, aku harus belajar menemukan itu sendiri.”
---
Mereka berpisah lagi.
---
Kali ini tidak dengan luka.
---
Karena Dara akhirnya mengerti:
beberapa orang datang bukan untuk menetap.
Mereka datang untuk mengajarkan sesuatu.
---
Ada cinta yang menjadi rumah.
Ada cinta yang menjadi perjalanan.
---
Dan ada cinta yang hanya menjadi bagian dari jalan panjang seseorang untuk menemukan dirinya sendiri.
---
Sen
