Membangun Fondasi Karakter Anak: Mengapa Kehadiran Orangtua Jauh Lebih Penting daripada Gadget?

Ilustrasi anak sedang fokus menggambar bersama ibu.(Dok. Freepik/jcomp)

TITIKWARTA.COM - Di tengah gempuran era digital, tantangan terbesar orangtua modern bukan lagi sekadar memberi fasilitas fisik, melainkan membangun keterampilan fondasi (foundation skills) pada anak. Dalam sebuah seminar edukasi parenting yang digelar di Jakarta pada Senin, 11 Mei 2026, terungkap bahwa tiga pilar utama—yaitu lingkungan yang mendukung, relasi yang sehat, dan kehadiran penuh dari orangtua—menjadi kunci utama yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Pertemuan ini membuka mata banyak pihak bahwa investasi terbaik untuk masa depan anak dimulai dari interaksi sederhana di dalam rumah.

 

Keterampilan fondasi ini mencakup kemampuan regulasi emosi, fokus, hingga keterampilan sosial-emosional yang akan menjadi modal utama anak saat beranjak dewasa. Banyak orangtua keliru dengan menganggap bahwa membelikan mainan edukatif atau gawai mahal sudah cukup untuk menstimulasi otak anak. Faktanya, tanpa adanya keterlibatan emosional dan interaksi dua arah dari orangtua, perkembangan saraf dan kemampuan adaptasi anak justru berisiko mengalami hambatan yang signifikan.

 

Lebih dalam lagi, lingkungan tempat anak tumbuh harus mampu memberikan rasa aman baik secara fisik maupun psikologis. Relasi yang hangat antaranggota keluarga akan membentuk rasa percaya diri pada anak, sehingga mereka berani mengeksplorasi hal baru di sekitarnya. Sebaliknya, lingkungan yang penuh dengan ketegangan atau pengabaian akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang cemas dan kesulitan dalam mengelola stres di masa depan.

 

Seorang psikolog anak dan ahli perkembangan yang menjadi pembicara utama dalam acara tersebut, menegaskan bahwa kehadiran fisik orangtua tidak akan berarti tanpa adanya keterikatan emosional (engagement). "Anak-anak tidak membutuhkan lingkungan yang sempurna, melainkan kehadiran orangtua yang utuh. Ketika kita hadir secara penuh saat mendengarkan dan bermain bersama mereka, di situlah keterampilan fondasi mereka terbangun dengan kuat," tutur Dr. Anastasia Rima, pakar psikologi perkembangan anak, dalam sesi diskusinya.

 

Melalui seminar pada pertengahan Mei 2026 ini, para orangtua diajak untuk mulai meluangkan waktu berkualitas, meski hanya 15 hingga 30 menit setiap hari tanpa gangguan gawai. Menanamkan keterampilan fondasi sejak usia dini adalah proses jangka panjang yang membutuhkan kesabaran. Dengan meletakkan dasar relasi dan lingkungan yang kokoh hari ini, kita sedang mempersiapkan generasi masa depan yang tangguh, adaptif, dan matang secara emosional.(tw/yal)