Persoalan Air Baku, Joni Usulkan Eks Void Tambang Batu Bara Jadi Alternatif
TITIKWARTA.COM - SANGATTA - Sumber air bersih masih menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi Kabupaten Kutai Timur (Kutim), sebab dari 18 Kecamatan di Kutim masih ada yang belum tersentuh Air Bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Terlebih musim kemarau saat ini debit air PDAM juga menurun. Oleh karena itu, Ketua DPRD Kutim meminta Pemerintah Kutim untuk mencari alternatif sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kutim.
"Pemkab harus mencari sumber air baku alternatif untuk Kutim ke depannya. Sungai masih menjadi sumber air baku utama, tapi produksi air bersih dari PDAM kian menurun saat musim kemarau,” kata Joni usai mengikuti kegiatan Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Perlindungan Anak di BPU Kecamatan Sangatta Utara belum lama ini.
Menurutnya, ada opsi penggunaan air eks Void Tambang Batu Bara sebagai sumber air baku dan sudah kerap digaungkan. Tapi muncul kekhawatiran dari masyarakat terhadap kelayakan air untuk dikonsumsi.
"Sebenarnya tidak masalah asal penggunaan air bekas lubang tambang melalui proses di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kudungga. Mereka memanfaatkan air bekas lubang tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan sampai sekarang aman dikonsumsi," ujarnya.
Untuk itu, ia merespon positif wacana penggunaan air bekas lubang tambang untuk mendukung penyediaan air baku untuk air bersih, kebutuhan Water Treatment Plant (WTP).
“Pemda dan perusahaan terkait harus memastikan bahwa air tersebut telah disterilkan agar memenuhi standar kesehatan,” ucapnya.
Untuk memastikan kualitas air dari lubang tambang, harus dilakukan pembuatan tempat penampungan atau embung khusus untuk mengendapkan zat aditif atau zat tambahan yang mungkin masih ada dalam air bekas tambang sebelum dilepaskan ke sungai atau distribusi ke masyarakat.
"Bisa juga dengan melepas ikan, jika hidup berarti air tersebut aman untuk dikonsumsi," sambung Joni.
Terakhir, setiap pemanfaatan air lubang tambang, Pemkab Kutim harus memprogramkan pengelolaan air yang dikenal dengan nama IPA.
"Jadi sebelum di salurkan, air tambang melewati proses pengelolaan jadi aman ketika sampai ke masyarakat," tutupnya. (adv/yal)
