Sebelum Lampu Merah Itu Menyala

Hari itu seharusnya biasa saja.

Jenis hari yang biasanya dilupakan manusia dalam waktu seminggu.

---

Damar bahkan hampir tidak jadi keluar rumah.

Hujan turun sejak pagi.

Ibunya menyuruh tetap tinggal.

---

“Tunggu reda dulu.”

---

Tapi manusia selalu merasa lima menit lebih cepat tidak akan mengubah hidup mereka.

---

“Aku cuma sebentar,” katanya sambil mengambil jaket.

Kalimat terakhir yang sering dipakai orang sebelum sesuatu buruk terjadi.

---

Ia hanya ingin membeli kabel charger.

Hal kecil.

Murah.

Tidak penting.

---

Di jalan, kota terlihat malas.

Aspal basah memantulkan lampu kendaraan seperti genangan cahaya yang pecah.

Damar berhenti di lampu merah dekat flyover.

---

Di sebelahnya ada seorang anak kecil menjual tisu.

Bajunya kebesaran.

Wajahnya terlalu kurus untuk usia segitu.

---

“Bang, beli satu.”

---

Damar menggeleng kecil.

Bukan karena tidak mau.

Hanya karena capek.

Dan manusia sering menjadikan lelah sebagai alasan untuk mengabaikan orang lain.

---

Lampu masih merah.

Anak itu berpindah ke motor lain.

---

Damar melihat ke atas.

Langit makin gelap.

---

Lalu suara itu datang.

---

Pendek.

Keras.

Tidak masuk akal.

---

Semua terjadi terlalu cepat setelahnya.

---

Teriakan.

Motor jatuh.

Kaca pecah.

Orang-orang lari tanpa arah.

---

Sebuah truk kehilangan kendali dari atas flyover.

---

Damar tidak sempat berpikir.

Tidak sempat takut.

---

Tubuhnya hanya bergerak sendiri.

---

Saat ia sadar kembali, dunia terasa jauh.

Suara orang-orang seperti datang dari dalam air.

---

Hujan masih turun.

---

Dan di depannya, anak penjual tisu itu menangis histeris.

---

“Bang… bang…”

---

Damar mencoba menjawab.

Tidak bisa.

---

Ia menunduk.

Baru saat itu ia melihat darah.

Banyak sekali.

---

Orang-orang mulai mengerumuni mereka.

Ada yang merekam.

Ada yang berteriak minta ambulans.

Ada yang hanya berdiri menonton.

Karena tragedi selalu berubah jadi tontonan lebih cepat daripada bantuan datang.

---

Damar merasa dingin.

Aneh sekali.

Padahal hujan tidak terlalu deras.

---

Anak kecil itu memegang tangannya erat.

Terlalu erat.

---

“Kakak jangan tidur…”

---

Kalimat itu terdengar jauh.

Semakin jauh.

---

Lampu lalu lintas berubah hijau.

Kendaraan mulai bergerak pelan.

Hidup kembali berjalan seperti biasa.

---

Dan Damar tiba-tiba sadar sesuatu yang mengerikan:

---

Dunia tidak pernah benar-benar berhenti untuk kehilangan seseorang.

---

Bahkan tidak untuk dirinya.

---

Keesokan harinya, videonya tersebar ke mana-mana.

---

“Pemuda Heroik Selamatkan Anak Jalanan.”

“Detik-Detik Kecelakaan Maut.”

“Korban Sempat Tersenyum Sebelum Meninggal.”

---

Orang-orang membagikan wajahnya.

Menulis doa.

Membuat potongan musik sedih.

---

Dan seminggu kemudian…

mereka lupa.

---

Kecuali satu orang.

---

Anak penjual tisu itu masih datang ke lampu merah setiap sore.

Masih membawa satu bungkus tisu yang tidak pernah dijual.

---

Karena di dunia yang terlalu cepat bergerak…

kadang cuma orang kecil yang benar-benar ingat siapa yang pernah menyelamatkannya.

---

Sen