Terminal Terakhir Sebelum Hujan
Aku bertemu Mara di terminal kota yang hampir dibongkar.
Tempat itu sudah tua. Cat mengelupas. Bangku besi berkarat. Bau solar bercampur hujan.
Tidak romantis sama sekali.
Mungkin memang begitu nasib cinta yang datang terlambat. Selalu memilih tempat-tempat lelah untuk muncul kembali.
---
Awalnya aku tidak yakin itu dia.
Perempuan di ujung lorong itu terlalu tenang untuk menjadi seseorang yang dulu pernah membuat hidupku berantakan.
Tapi lalu ia menoleh.
Dan waktu, sialnya, bekerja terlalu baik.
---
“Kamu tambah tua,” katanya.
Aku tertawa kecil.
“Kamu juga.”
---
Kami berdiri canggung beberapa detik.
Seperti dua orang asing yang kebetulan membawa kenangan yang sama.
---
Dulu kami hampir menikah.
“Hampir” memang kata yang paling tidak berguna dalam hidup manusia.
Hampir berhasil.
Hampir bertahan.
Hampir pulang.
---
“Masih suka naik bus malam?” tanyaku.
“Masih susah tidur,” jawabnya.
Beberapa orang memang tidak berubah. Mereka hanya belajar menyembunyikan luka lebih rapi.
---
Hujan turun pelan di luar terminal.
Bus datang dan pergi seperti ingatan yang tidak mau menetap.
---
Kami duduk di bangku panjang dekat kios kopi.
Tidak ada musik.
Tidak ada nostalgia indah seperti di film.
Hanya suara mesin tua dan pengumuman keberangkatan yang pecah-pecah.
---
“Aku sempat benci sama kamu,” katanya tiba-tiba.
---
Aku mengangguk.
Masuk akal.
---
Waktu itu aku pergi tanpa penjelasan.
Bukan karena tidak cinta.
Justru karena terlalu cinta.
Kalimat paling bodoh yang pernah diciptakan manusia.
---
Ayah Mara sakit keras saat itu.
Dan keluarganya jelas tidak akan menerima laki-laki sepertiku.
Pengangguran. Aktivis gagal. Terlalu banyak mimpi, terlalu sedikit uang.
---
Aku pikir pergi akan membuat hidupnya lebih mudah.
Yang sebenarnya terjadi?
Aku hanya membuatnya menanggung kehilangan sendirian.
---
“Kamu tahu bagian paling menyebalkan?” katanya sambil menatap hujan.
“Aku terus berharap kamu balik.”
---
Aku tidak menjawab.
Karena beberapa rasa bersalah terlalu tua untuk dibela.
---
Bus menuju kota timur masuk ke terminal.
Lampunya menyapu genangan air seperti kilatan pendek masa lalu.
---
“Itu busku,” katanya pelan.
---
Aku mengangguk.
Tidak ada alasan untuk menahannya.
Orang seperti kami tidak diberi kesempatan kedua.
Kami cuma diberi kesempatan mengenang.
---
Sebelum berdiri, Mara menatapku lama.
Untuk pertama kalinya malam itu, matanya terlihat lelah.
Bukan lelah fisik.
Lelah karena terlalu lama membawa sesuatu yang tidak selesai.
---
“Aku punya anak perempuan,” katanya.
Aku tersenyum kecil.
“Dia pasti mirip kamu.”
---
Mara menggeleng pelan.
---
“Dia mirip kamu waktu muda.”
---
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang seharusnya.
---
Aku ingin bertanya banyak hal.
Tentang suaminya.
Tentang hidupnya.
Tentang apakah ia pernah bahagia.
---
Tapi bus itu sudah membuka pintu.
Dan manusia kadang cuma diberi beberapa menit sebelum hidup memisahkan mereka lagi.
---
“Aku senang ketemu kamu,” kataku akhirnya.
---
Mara tersenyum tipis.
Jenis senyum yang lahir bukan dari kebahagiaan…
tapi dari penerimaan.
---
“Jangan terlalu sering mengenang,” katanya.
“Beberapa kenangan cuma hidup supaya kita tahu… kita pernah jadi seseorang bagi orang lain.”
---
Lalu ia naik ke bus.
Tidak menoleh lagi.
---
Aku tetap duduk di terminal itu bahkan setelah busnya hilang.
Hujan makin deras.
Orang-orang mulai sepi.
Lampu kios satu per satu mati.
---
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku sadar sesuatu.
---
Aku tidak kehilangan Mara malam itu.
---
Aku kehilangannya jauh dulu.
Dan selama ini…
aku hanya terlalu pengecut untuk mengakuinya.
---
Sen
