Catatan Harian Arga, Manusia Kantoran Biasa (6)

EPISODE 6

HIDUP SEWAAN : RAPAT YANG SEHARUSNYA BISA JADI CHAT

 

Pukul 09.03 seluruh divisi sudah duduk di ruang rapat.

Pak Danu berdiri di depan layar.

“Baik, teman-teman. Tidak lama, ya.”

Arga langsung melihat jam.

Pengalaman mengajarkannya bahwa kalimat tidak lama dalam rapat memiliki hubungan yang sangat longgar dengan waktu.

“Intinya kita perlu meningkatkan koordinasi.”

Semua mengangguk.

“Komunikasi harus diperkuat.”

Mengangguk lagi.

“Jangan sampai ada miskomunikasi.”

Mengangguk.

Arga mulai khawatir kepalanya akan copot.

---

Dua puluh menit berlalu.

Arga berusaha terlihat serius.

Ia membuka buku catatan dan menulis:

RAPAT KOORDINASI

Di bawahnya:

1. Koordinasi harus ditingkatkan.

Setelah itu tidak ada lagi yang bisa ditulis.

Ia menggambar kotak.

Kemudian lingkaran.

Kemudian wajah kecil.

Rina yang duduk di sebelahnya melirik.

“Lu nyatet apa?”

“Poin penting.”

“Itu gambar ikan.”

“Visualisasi poin penting.”

---

Pukul 09.41, Pak Danu berkata,

“Baik. Mungkin itu saja.”

Seluruh ruangan mengalami kebahagiaan kolektif.

Laptop mulai ditutup.

Pulpen dimasukkan.

Arga sudah memegang ponsel.

Lalu Doni mengangkat tangan.

“Pak, mungkin sedikit dari saya.”

Semua gerakan berhenti.

Arga menatap Doni.

Rina menatap Doni.

Bahkan AC seolah berhenti sebentar.

Doni mulai bicara.

“Jadi kalau menurut saya, terkait yang Bapak sampaikan tadi...”

Lima belas menit kemudian dia masih bicara.

Arga mendekat ke Rina.

“Dia punya keluarga enggak?”

“Punya.”

“Kenapa enggak pengen cepat pulang?”

---

Pukul 10.02 rapat akhirnya benar-benar selesai.

Saat semua berdiri, Pak Danu berkata,

“Oh iya, kesimpulannya satu saja.”

Arga berhenti.

Pak Danu melanjutkan,

“Mulai minggu ini, laporan dikirim setiap Jumat sebelum jam tiga.”

Sunyi.

Arga memandang Rina.

Rina memandang Arga.

Empat puluh sembilan menit.

Untuk satu kalimat.

Kembali di meja, Arga membuka grup WhatsApp kantor.

Ia mengetik:

Mulai minggu ini laporan dikirim setiap Jumat sebelum jam 15.00.

Lalu menatapnya.

Seluruh rapat tadi ternyata muat dalam satu chat.

Rina lewat di belakangnya.

“Jangan dipikirin.”

“Gue cuma merasa kehilangan 49 menit masa muda.”

“Sudahlah.”

“Enggak bisa balik, Rin.”

Rina menepuk bahunya.

“Yang kuat.”

Arga menghela napas.

Menjadi pekerja kantoran memang mengajarkan banyak hal.

Salah satunya:

Tidak semua rapat yang bisa menjadi chat...

akan dibiarkan menjadi chat.

— BERSAMBUNG —