Membedah Psikologi Si Genting: 5 Karakter Orang Yang Suka Mengeluh Di Sekitar Kita
Ilustrasi. Kenali sejumlah karakter orang yang suka mengeluh. Karena tak puas dengan hidupnya, sering kali bikin orang lain jadi ikut repot. (iStockphoto/Husam Cakaloglu)
TITIKWARTA.COM - Mengeluh sesekali adalah hal yang manusiawi untuk melepaskan stres. Namun, ketika keluhan bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan kronis yang tiada hari tanpa protes, hal itu bukan lagi sekadar pelampasan emosi biasa. Di balik setiap keluhan yang terlontar, terdapat struktur kepribadian dan kondisi psikologis tertentu yang mencerminkan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
Dalam sebuah studi perilaku dan kesehatan mental yang dipublikasikan pada Kamis, 25 Juni 2026, para pakar psikologi membedah fenomena ini. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi emosional yang sangat kuat antara kebiasaan mengeluh yang tinggi dengan tingkat kepuasan hidup yang rendah. Orang yang terjebak dalam lingkaran ini umumnya memiliki cara pandang yang terdistorsi terhadap realitas.
"Orang yang kronis dalam mengeluh biasanya memiliki kepuasan hidup yang sangat rendah karena fokus mereka terkunci pada hal negatif," ujar Dr. Robert Biswas-Diener, seorang psikolog perilaku terkemuka yang mendalami studi kebahagiaan saat menjelaskan hasil temuan klinisnya.
Karakter pertama yang melekat pada individu tipe ini adalah memiliki external locus of control atau merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Mereka selalu memposisikan diri sebagai korban dari keadaan, menganggap nasib buruk mereka sepenuhnya disebabkan oleh orang lain, cuaca, hingga sistem pemerintahan, tanpa pernah merefleksikan peran atau tindakan personal mereka sendiri.
Karakter kedua dan ketiga adalah kecenderungan berfokus pada kekurangan (deficit-focused) serta kebutuhan akan validasi sosial yang berlebihan. Alih-alih mensyukuri apa yang berjalan lancar, otak mereka secara otomatis menyaring dan membesarkan kesalahan kecil. Menariknya, keluhan tersebut sering kali sengaja disuarakan secara lantang di depan publik atau media sosial hanya demi memancing rasa iba serta perhatian dari orang lain.
"Keluhan yang konstan sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri yang keliru untuk mendapatkan perhatian instan tanpa harus menyelesaikan masalah yang sebenarnya," tambah Dr. Biswas-Diener dalam kutipan ulasan psikologisnya mengenai motif tersembunyi di balik kebiasaan tersebut.
Sementara itu, karakter keempat dan kelima yang tidak kalah merusak adalah rendahnya rasa penolakan terhadap ketidakpastian (low ambiguity tolerance) dan penularan emosional yang negatif. Orang yang suka mengeluh cenderung menuntut segala hal berjalan sempurna sesuai ekspektasinya. Ketika realitas tidak sejalan, mereka akan langsung frustrasi dan secara tidak sadar menyebarkan energi negatif tersebut ke lingkaran pertemanan mereka.
Pada akhirnya, memahami lima karakter psikologis ini bukan bertujuan untuk menghakimi, melainkan sebagai alarm refleksi bagi diri kita sendiri. Memutus rantai kebiasaan mengeluh secara kronis dan mulai melatih rasa syukur secara sadar adalah langkah awal yang krusial untuk menaikkan kembali grafik kepuasan serta kebahagiaan hidup yang sempat merosot.(yal/tw)
