Perempuan yang Mendengar Abu
Di desa itu, orang-orang tidak takut pada api.
Mereka takut pada sisa yang ditinggalkannya.
---
Karena menurut nenekku, abu selalu mengingat sesuatu.
---
Aku tumbuh dengan cerita-cerita aneh itu.
Tentang rumah yang terbakar lalu “berbisik” berhari-hari setelahnya.
Tentang orang-orang yang bisa mendengar suara dari tumpukan arang.
Tentang perempuan dalam keluargaku yang katanya diberi kemampuan untuk “mendengar abu.”
---
Aku pikir itu cuma takhayul.
Sampai rumah pertama terbakar saat aku berumur tujuh belas.
---
Tidak ada korban.
Hanya gudang tua di pinggir desa.
Orang-orang berkumpul pagi harinya, membicarakan penyebab kebakaran seperti manusia selalu lakukan untuk membuat diri mereka merasa hidup masih bisa dijelaskan.
---
Aku berdiri dekat puing-puing itu.
Dan mendengar sesuatu.
---
Tangisan.
---
Pelan sekali.
Seperti suara seseorang yang terlalu lama terjebak dalam asap.
---
Aku mundur ketakutan.
Tapi suara itu ikut bergerak.
Masuk ke kepalaku.
---
“Belum selesai.”
---
Malam itu aku demam.
Dan nenek hanya duduk di samping tempat tidurku sambil menumbuk daun-daunan.
---
“Kamu mulai mendengarnya,” katanya tenang.
---
“Mendengar apa?”
---
“Yang tertinggal.”
---
Aku ingin tertawa.
Ingin bilang ini gila.
Tapi suara itu masih ada.
Lembut.
Patah-patah.
Seperti bara kecil yang belum benar-benar mati.
---
Lalu kebakaran kedua terjadi.
---
Rumah seorang guru.
Kali ini ada korban.
---
Dan ketika aku berdiri di depan sisa bangunan itu…
suara-suara itu jadi lebih jelas.
---
Bukan satu.
Banyak.
---
Marah.
Takut.
Menyesal.
---
Aku jatuh berlutut sambil menutup telinga.
Percuma.
Karena suara itu tidak datang dari luar.
---
Orang-orang mulai memperhatikanku.
Mereka berbisik saat aku lewat.
Beberapa takut.
Beberapa penasaran.
Karena manusia selalu tertarik pada sesuatu yang mereka anggap kutukan selama kutukannya tidak menimpa mereka sendiri.
---
“Api berikutnya dekat,” kataku suatu malam pada nenek.
Aku tidak tahu kenapa aku yakin.
Aku hanya… tahu.
---
Nenek diam lama.
Lalu bertanya pelan:
“Rumah siapa?”
---
Aku tidak bisa menjawab.
Karena suara-suara itu tidak pernah memberi nama.
Hanya rasa sakit.
---
Beberapa hari kemudian, aku mulai mencium bau hangus di mana-mana.
Di pasar.
Di sekolah.
Bahkan saat hujan turun.
---
Dan aku mulai melihat abu.
---
Di rambut orang.
Di pakaian mereka.
Di tangan mereka.
---
Seolah seluruh desa perlahan sedang terbakar dari dalam.
---
Aku berhenti tidur.
Karena setiap kali memejamkan mata, aku melihat rumah-rumah gosong dan orang-orang berdiri di dalamnya tanpa kulit.
---
Lalu malam itu datang.
---
Aku terbangun karena suara bisikan memenuhi kamar.
Lebih keras dari sebelumnya.
Lebih panik.
---
“Sekarang.”
---
Aku berlari keluar rumah.
Dan melihat cahaya merah di ujung desa.
---
Api.
---
Besar sekali.
---
Orang-orang berteriak.
Ember dilempar.
Anak-anak menangis.
---
Aku berdiri mematung.
Karena aku mengenali rumah itu.
---
Rumahku.
---
Nenek masih di dalam.
---
Aku mencoba masuk.
Orang-orang menahanku.
---
Panasnya terlalu besar.
---
Dan di tengah kobaran itu…
aku melihat nenek berdiri.
Diam.
Tidak terbakar.
---
Ia menatapku.
Lalu tersenyum kecil.
---
“Akhirnya kamu mendengar semuanya,” katanya.
---
Atap rumah runtuh sesaat setelahnya.
---
Api baru padam menjelang pagi.
Atau sesuatu yang menyerupai pagi.
---
Orang-orang bilang nenekku meninggal terbakar.
---
Aku tahu tidak sesederhana itu.
---
Karena sejak malam itu…
suara-suara itu tidak pernah pergi lagi.
---
Sekarang setiap kali sesuatu terbakar, aku mendengarnya.
Tangisan.
Nama-nama.
Rahasia.
---
Dan yang paling menakutkan…
---
aku mulai bisa membedakan suara orang yang masih hidup… dan yang sudah lama jadi abu.
---
Sen
