Pakar Gizi Ingatkan Bahaya Konsumsi Protein Berlebihan Bagi Kesehatan

Ilustrasi protein. Ahli diet mengungkap lima tanda yang dapat muncul ketika asupan protein terlalu tinggi dan mulai menggantikan nutrisi penting lainnya.(FREEPIK)

TITIKWARTA.COM - Tren gaya hidup sehat dan pembentukan massa otot yang tengah populer kerap membuat banyak orang berlomba-lomba meningkatkan asupan protein secara masif. Kendati nutrisi ini sangat vital bagi pertumbuhan jaringan tubuh, pemenuhan porsi protein yang melampaui batas wajar justru menyimpan potensi bahaya tersembunyi bagi fungsi organ dalam.

 

Asupan protein tinggi kerap diandalkan untuk mempercepat penurunan berat badan dan membentuk tubuh atletis. Namun, tubuh manusia sejatinya memiliki kapasitas terbatas dalam mengolah makronutrisi. Ketika jumlah yang masuk melebihi kebutuhan harian, kelebihan tersebut tidak serta-merta diubah menjadi otot, melainkan diproses menjadi tumpukan beban kerja ekstra bagi organ vital.

 

Dampak buruk yang paling nyata dari konsumsi protein berlebih terletak pada fungsi ginjal dan hati. Kedua organ ini harus bekerja jauh lebih keras dari biasanya untuk memproses asam amino serta menyaring sisa-sisa metabolisme amonia dan urea yang terbuang ke dalam sistem peredaran darah.

 

Ahli gizi klinik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Dr. Rina Astuti, Sp.GK, menegaskan bahwa pemahaman masyarakat terkait pola konsumsi nutrisi harus diluruskan. Menurutnya, segala sesuatu yang dikonsumsi secara tak berimbang pasti akan memicu dampak negatif jangka panjang pada tubuh.

 

"Banyak orang mengira makin banyak protein yang dikonsumsi akan makin bagus. Padahal, ginjal harus bekerja ekstra keras untuk menyaring produk sampingan metabolisme protein. Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa asupan air yang cukup, hal ini bisa memicu gangguan fungsi ginjal hingga pembentukan batu ginjal," ungkap Dr. Rina Astuti, Sp.GK dalam wawancara hari ini.

 

Selain mengancam organ filtrasi, asupan protein berlebih—terutama yang berasal dari daging merah atau produk olahan berlemak tinggi—juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Tumpukan lemak jenuh yang menyertai sumber protein tersebut dapat memicu kenaikan kolesterol jahat dalam darah.

 

Masalah penyerapan nutrisi lain seperti gangguan pencernaan, sembelit, dan penurunan kepadatan tulang juga menjadi konsekuensi yang membayangi. Kurangnya asupan serat akibat terlalu mendominasi piring makan dengan protein membuat mikroflora usus kehilangan keseimbangannya.

 

Guna mencegah dampak buruk tersebut, masyarakat diimbau untuk mematuhi pedoman gizi seimbang sesuai anjuran medis harian. Dr. Rina Astuti, Sp.GK mengingatkan agar pemenuhan gizi disesuaikan dengan tingkat aktivitas fisik masing-masing individu. "Kebutuhan harian rata-rata orang dewasa sebenarnya cukup 0,8 hingga 1,2 gram per kilogram berat badan. Kuncinya ada pada porsi yang seimbang antara karbohidrat, protein, lemak sehat, serta serat," pungkasnya.(yal/tw)